Dunia Yaya

Jumat, 17 Agustus 2018

Happy Independence Day 73'th
Apa arti merdeka bagimu?. Artinya bagiku?. Harus dijawab ya?
Merdeka bagiku adalah terlepas dari segala yang membelenggu. Merdeka sebagai diri. Merdeka dengan hati. Dan merdeka untuk pikiran. Jika ada yang menutupi dirimu, lepaskanlah, keluarlah, berlarilah. Jangan biarkan dirimu terjerembab di dalamnya. Dirimu amat sangat berharga. Tiap detik dan helaan nafasmu sangatlah istimewa. Tak bisa dibeli, tak bisa diganti, dan tak bisa diabaikan. Semua istimewa. Biarkan dirimu lepas, bebas, dan tergerak. Dirimu pun pantas untuk bergegas. 

Jika ada yang melukai hatimu. Tersenyumlah. Merdekakan hatimu dari segala penyakit hati. Biarkan mereka bangga dengan semuanya. Biarkan hati mereka puas. Biarkan mereka bahagia. Hatimu sama sekali tak pantas disakiti oleh mereka. Hatimu adalah semangatmu. Jangan biarkan hitam, legam, dan ikut panas. Biarkan orang lain menyakitimu, jangan balas menyakitinya. Biarkan orang lain jahat, jangan balas menjadi jahat sepertinya. Biarkan Hati mereka puas, puaskan pula hatimu dengan Allah di hatimu. Dengan begitu hatimu akan bebas mencintai-Nya sebanyak yang kau mau. Hatimu adalah permata yang dicipta oleh Allah. Sebagaimanapun telah dilempar jatuh ke dalam lumpur, hatimu tetap saja permata. Bercahaya, bersinar, dan berharga. Apakah kau akan menyia-nyiakan permata yang kau punya?.

Bagaimana dengan pikiranmu?. Apa keistimewaan seorang manusia?. Bukankah terletak pada pikirannya?. Kita beda dengan hewan karena kita bisa berpikir dengan rasional, kritis, dan bernurani. Kita bisa membuat keinginan sendiri sebelum semua berstatus sebagai sebuah takdir. Berarti, keunikan kita adalah bisa membuat pilihan-pilihan sebelum menggunakan jubah pasrah. Maka pilihlah proses yang lebih menyamankanmu. Keluarkanlah ide-ide gemilangmu. Dan kritisilah apa yang mengganggu nuranimu, lalu perbaikilah. Begitulah baru kita layak dianggap sebagai manusia. Jika kita hanya jadi makhluk berbekal pasrah, lalu apa yang membuat kita layak dianggap manusia?. Bebaskan pikiranmu, biarkan berkelana mencari kebenaran, mengkritisi ketimpangan, dan memperbaiki kesalahan. 

Happy Independence day ke 73 Indonesia-ku. Semoga ke depannya bisa lebih jaya dan bermartabat. Perekonomian makin berkembang, marwahnya lebih terjaga, dan lebih penting lagi semoga dipimpin oleh orang-orang yang amanah. 

DIRGAHAYU INDONESIA............

Jumat, 10 Agustus 2018

Today is a Gift
Hai Yaya how are you? Sehat? Nggak suka sakit lagi? Nggak insomnia lagi? Nggak malas makan lagi? Nggak cuek sama bahagia sendiri lagi?. Ayolah... Jangan lagi. Let's smile... Jadilah pribadi yang lebih baik. Meski mungkin kau bukan orang baik dan tidak dianggap baik, biarlah. Bukankah penilai mutlak hanyalah Allah. Dan Kebenaran akan terus jadi benar meski bukan sebuah fakta. Teruslah berbuat untuk orang lain. Hidup ini singkat jika hanya berdiam diri. Entah apa yang akan menjadi jalanmu, tetaplah menjadi yaya seperti biasanya. Ada banyak yang mesti diraih, ada banyak harapan yang ingin di-nyata-kan. Ada kebaikan yang belum dilakukan. Ada keburukan yang mesti dihapus. Yaya Afifatunnisa... Nama pena yang telah lama melekat pada dirimu. semoga makna yang ada didalamnya menjadi do'a sepanjang hidupmu di samping nama yang dilekatkan oleh orang tuamu. Ah, iya.. Bapak... Saya rindu. Semoga di alam sana engkau diberikan rahman dan rahimnya oleh Allah. Dan untuk Ibu, semoga engkau sehat selalu, tetap ada di dekatku dan diberi umur yang panjang. Bapak.. Ibu.. maafkan anakmu ini. Do'akan anakmu ini bisa menjadi orang yang lebih baik dan membanggakanmu jika tak bisa di dunia, semoga di akhirat. Rabb.. syukur dan sembah sujudku kepada-Mu. Syukran ya Rabb atas segala karunia-Mu.

Barakallahu fi Umrik Yaya. May Allah always bless, miss, and forgive you. 

Yesterday is the past. Tomorrow is the future. And today is a gift and that's why we call it the present.
Wanita Tangguh
Ada pelajaran lain hari ini. Mengunjungi seorang ibu dengan keenam anaknya yang masih butuh biaya besar agar bisa mengejar cita-citanya. Namun kesemuanya mesti dijalani sendiri, dipikul sendiri, dan dihadapi sendiri. Berjuang menjadi orang tua yang "seolah" tunggal. Sungguh perjuangan yang benar-benar memberikan pelajaran bahwa: Perempuan itu manusia yang tangguh, dibalik kelemahannya mereka masih tetap bisa berjuang sendiri mengepalkan tangan menantang kerasnya dunia. (Juga) bahwa, rumah tangga tidaklah semanis yang dipikirkan. Saat biduk rumah tangga benar-benar dilayarkan, disitulah segala kepelikan, ujian, cobaan, kesabaran akan benar-benar diuji. Hal yang indah atau dulu terasa indah menjadi kisah yang berbalik genre. Yang diperlukan kemudian adalah penerimaan bahwa tiap kita punya kekurangan, dan karena kekurangan itulah harusnya bisa saling melengkapi.

Mata itu berkaca-kaca berkisah. Kupikir kepelikan hidupnya tidaklah seterjal itu. Sebelumnya kusangka, dia hidup bersama dan bahagia bersama lelaki itu. Lelaki yang sejenak pernah kuperhatikan sangat dihormatinya. Bahkan yang kutangkap, berbicara biasa saja dia begitu sopan dan terkesan nggak enakan. Sebuah pernikahan dengan seorang lelaki dari keluarga bangsawan. Meski dengan membawa gelar itu, apakah tak bisa lebih realistis melihat kehidupan?. Bukankah kepala keluargalah yang bisa lebih banyak berpengaruh pada lebih meningkatnya taraf kehidupan. Bangsawan bukan menghasilkan uang, maka haruslah tetap bekerja. Kalau penghasilan suami tidak mencukupi, tentu seorang istri akan tergerak sendiri mencari alternatif. Dengan begitu, aktivitas rumahan akan ada terbengkalai. Perlu pemahaman bahwa istri pun punya rasa capek, butuh sejenak istitahat, dan butuh menarik nafas setelah balik dari aktivitas untuk merapikan rumah. Apa salahnya jika suami yang melakukannya?. Bukankah urusan seperti itu tidak mutlak hanya bisa dikerjakan lelaki?. Yang mengherankan itu kalau tak bisa menafkahi, tak bisa mengambil bagian pekerjaan rumah, namun tak bisa menerima bahwa kehidupan rumah tangga mereka belum juga berkecukupan. heyyy.... yang jadi kepala keluarga sopo?. Rasanya ada yang mengaduk-aduk perasaan ini kala kisah itu mengalir. Sebegitu keraskah dunia pernikahan?

Memperhatikan setiap berkas, serta memverifikasi datanya. Kutemukan ada banyak lagi kisah perempuan-perempuan tangguh. Ada yang harus menanggung bebalnya seorang lelaki yang begitu PD menjadi kepala keluarga, tetapi jangankan memberi nafkah, memberikan citra baik saja tidak. Memberikan rasa nyaman juga tidak. Yang ada, harus menerima cibiran dari orang sekitar, memiliki seorang pria yang statusnya buron. Kerja tak jelas. Mabuk-mabukan. Dikejar-kejar polisi. Ditambah juga gemar main tangan. Mencekik biasa dilakukan. Merampas uang bantuan untuk anak-anaknya pun tega digemari. Ada yang lelaki macam itu?. Apalagi? Banyak.... perempuan-perempuan hebat yang dengan kedua tangannya masih saja dengan kokoh menantang kehidupan. Perih, sakit, sendiri, lelah, tak menjadikan mereka surut langkah melanjutkan hidup.

Sejenak berfikir, Begitukah hidup?. Keindahan yang dirangkai dalam angan sebelum proses pernikahan ternyata mesti diuji dengan realita, bahwa ketika biduk benar dikayuh yang tersembunyi kemudia muncul dipermukaan. Kata indah nan romantis bukan lagi bumbu pemecah peliknya hidup. Kata sepenanggungan yang dulunya yakin diucapkan serasa pilu. Lelaki yang diharap-harap menjadi pengayom dalam kehidupan, tempat bermanja, bercerita, saling berbagi, dan bisa bersama, menerima, penuh perelaan, nyatanya waktu akan mengujinya. Hanya tinggal waktu, segala sifat baik akan tampak jelas aslinya. Hanya menunggu masalah sampai penerimaan itu benar ada.

Hai sista yang masih sendiri, Jangan terlalu berhayal setinggi langit bahwa ketika masuk ke dunia pernikahan kepelikan akan mudah diatasi. Justru kenyataannya kepelikan akan bertambah. (juga) jangan begitu yakin bahwa lelaki yang pernah begitu perhatian, begitu romantis, penuh janji, benar nanti akan selalu begitu. Justru segala sifat, sikap, perilaku, karakter semua akan terbuka kala biduk rumah tangga sudah dilayarkan. Bukan lagi kata romantis yang kita butuhkan, tetapi lebih ke rasa saling memahami dan menerima. Jangan dulu begitu bangga pada lelaki yang saat ini begitu meyakinkan. Apalagi dia berkata penuh janji. Cinta dan janjinya kelak akan teruji dengan sendirinya. akan beradaptasi dan berevolusi. Waktu dan masalahlah yang akan membuatnya terang.

*Kota Palopo, dalam nuansa PKH*
Bromance Anies-Sandi
Sarapan pagi ini bukan cemilan atau sepiring nasi atau secangkir teh. Tetapi suguhan sebuah foto dengan caption yang entahlah membuat air bening sukses mengalir dari kedua belah mata. Saya tidak tahu kenapa. Tetapi ini bukan lebay. Ini karena ukhuwah diantara keduanya yang begitu erat. kerjasama yang apik. Saling mendukung. Dan saling Merelakan. Keduanya sebenarnya saling melengkapi dan membutuhkan, namun dengan melihat kondisi bahwa ummat yang lebih besar lebih banyak yang menanti, perelaan pun mengiringi. Sebuah dinamika yang jarang orang bisa dengan lapang melakukan dan menerimanya. Mereka adalah Anies-Sandi. Sosok 2 pemimpin baru yang banyak menyita perhatian masyarakat Indonesia, bukan hanya di DKI tetapi seluruh nusantara. Siapa sih yang tidak mengenal beliau. Dengan perjuangan yang berat dan besar akhirnya mereka bisa menduduki DKI 01 dan 02. Dan mereka dengan harapan dan kinerjanya berusaha membangun DKI menjadi lebih baik. 

Apa isi caption instagram pak Anies?
Telah dicukupkan kerja berpasangan di Balaikota DKI. Diskusi rutin di ruang gubernur pada hari Kamis sore kemarin tercatat jadi diskusi penghabisan. Sebuah babak baru telah dimulai. Semoga Allah lindungi dan kuatkan dalam perjuangan Bro @sandiuno ke depan. Barakallah, Bro! *ABW
Gimana nggak mewek coba baca. Dan bukan cuma saya ternyata, banyak yang terharu juga membaca dan melihat pic tersebut. Mungkin yang lain pun bisa merasakan kedekatan, kebersamaan, perelaan, dan keikhlasan keduanya. Kataku:
Finally... saya juga mewek baca caption foto di atas 👆 di akun pak @aniesbaswedan 😢. Entahlah.. rasanya mereka sudah cocok. Bromance banget... tapi yah semoga ini untuk kemaslahatan ummat. Salut dengan pak @aniesbaswedan . Barakallahufiik, Tetap semangat pak. Lanjutkan kerja tuk DKI. Semoga Allah mudahkan segalanya. Dan the next lah berharap bapak bisa jd 01 di negeri ini. Dan selamat tuk pak @sandiuno . Semoga bakal amanah baru bisa lebih bermaslahat. #prabowosandi #pilpres2019 #2019gantipresiden
Kolaborasi diantara keduanya tentu mengundang decak kagum banyak orang. Meski tak dipungkiri masih banyak pula yang tetap setia mencibir apapun yang dilakukan. Namun dengan setahun perjalanan mereka mengawal perubahan DKI, iklim politik sekitar berubah, dan diantara mereka berdua digadang-gadang menuju RI 02. Sebenarnya banyak yang berharap keduanya bisa tetap berada di DKI menyelesaikan janji kampanye dan juga pembangunan serta rencana yang telah dibuat. Pilihan ini tentu sulit, disamping mengorbankan posisi yang telah nyata menuju posisi yang masih abu-abu, juga nama baik dan cibiran tentu akan semakin  mengiris. Makin mudah orang mengatai ingkar janji, tidak konsisten, kutu loncat, serakah, kejar jabatan, atau apalah. Wajar orang akan berpikiran begitu. hanya saja beda pandangannya bagi mereka yang memikirkan bahwa melakukan hal yang lebih maslahat itu lebih baik. Dan lagi-lagi tak mungkin bisa menyenangkan semua orang. Dengan majunya Sandiaga Uno ke perhelatan pilpres 2019, mau tidak mau kepercayaan masyarakat akan pimpinan DKI akan semakin tergerus, jadilah jalan mudah diaduk dan digiring. Entah bagaimana riuhnya kalau pak Anies Baswedan yang menjadi 01 DKI menerima tawaran menjadi 02 RI. Padahal jika kita merunut sejarah, justru Jokowi-lah yang memulai mencontohkan hal tersebut. Jika ada pohak yang menyesalkan hal itu, kenapa tidak balik ditepis bahwa contohnya justru dari Jokowi sendiri. Artinya sebenarnya masalah ini tak perlu dibesar-besarkan. Begitulah kancah politik, orang yang mumpuni, punya elektabilitas yang tinggi dan mulai digandrungi, akan mudah saja ditarik ke kepentingan yang lebih luas. Kalau hal ini mengganggu stabilitas dan struktur, maka sebaiknya UU ditinjau kembali. 

Jadi, mari menyambut Pilpres ini dengan tidak mencibir kekurangan yang sama-sama pernah dilakukan. Tak perlu saling menuding kalau toh semua mengalaminya. Cukup bangun kepercayaan, buat visi misi yang lebih rasional, dan mari membuat planning besar untuk negeri ini. How about with you brothers and sisters?

Palopo, Hari yang katanya harusnya penuh kebahagiaan.

Kamis, 09 Agustus 2018

Huru-Hara Deklarasi Pilpres 2019
Hari ini utamanya di media lagi hangatnya membahas tentang pencalonan capres - cawapres. Awalnya sih nggak begitu minta mau tahu apa yang terjadi. Malas pokoknya nonton berita yang bahasnya itu melulu. Dunia politik yang belokannya kadang tiba-tiba melengkung dan tiba-tiba lurus. Sesuai dengan kehendak kepentingan. Wallahu a'lam, semoga masih ada saja orang yang berkecimpung di dunia itu yang bisa dipercaya. Hanya saja, sore tadi di kampus sempat diatanya sama teman: Kak, pak Sandiaga Uno calonnya Probowo di?. Saya pun menimpali: ah, iyyakah? ndak tahu juga. Tapi masak sih pak sandi?. Jakarta gimana dong?. Setelahnya bahasan kembali ke laptop. Kembali ke nilai mahasiswa yang membuat "kebingungan Tanpa Logika". Ini nggak usah dibas disini yah. Ntar ada part tersendiri.

Tetapi, setiba di rumah menjelang maghrib, adik dan ibu lagi heboh-hebohnya nonton berita. Katanya pak Mahfud MD yang jadi calon wapres Jokowi. Iyyakah? begitu pikirku sejenak. Wah... nggak jadi TGB ya? Nggak jadi pak JK ya? kok tiba-tiba pak Mahfud?. Tapi ah sudahlah.... Namun karena kondisi di depan Tv bener-bener nggak mengenakkan hati. Ibu banyak mencaknya melihat berita. begini dan beitulah, mau tidak mau bersuara juga menasehati ibu supaya jangan sampai keluarkan kata-kata sumpah serapah. Sejengkel apapun melihat berita. Tak lama menyaksikan siaran langsung, terdengarlah suara pak Jokowi mengumumkan siapa cawapres yang dia pilih. Saya yang di kamar sih nggak begitu minat keluar mendengar pengumuman itu. Kan tadi sudah heboh ibu mencaknya bilang ini itu pada pak J***wi dan pak M**f**. Kupikir kan sama aja. Eh, karena kadung lapar saya ngambil makanan lalu bergabung depan TV nonton. Disitulah ibu curhat pandangan politiknya :D. Dia merasa kasihan, tertawa, dan juga apalah namanya, karena ternyata yang disebut oleh pak jokowi bukan M yang Mahfud MD, tetapi Ma'ruf Amin. Mulailah saya berminat dengar dan cari tahu. 

Keluarlah cerita dari ibu bahwa sejak kemarin nama yang digadang-gadang mendampingi Jokowi adalah Mahfud MD. Bahkan semua media sudah membahas itu, mewawancari pak Mahfud, sampai pada tadi menjelang maghrib masih ada berita bahwa pak Mahfud sudah diwawancarai sudah sedia fitting baju untuk deklarasi. Dan lebih dramatisnya lagi, ada yang mengabarkan bahwa pak Mahfud telah separuh perjalanan menuju tempat pertemuan Jokowi dengan partai-partai pendukung, namun kemudian berbalik haluan. (mungkin) setelah mengetahui atau mendengar bahwa "M" yang dimaksud sebagai pendamping Jokowi di pilpres bukan dia tetapi KH. Ma'ruf Amin, ketua MUI. itu benar nggak sih?. Wallahu a'lam. Kita yang sebagai penonton, sebagai nitizen hanya bisa menerka dan mengomentari, tepatnya gimana hanya mereka dan Allah yang tahu. Tetapi, jika bener itu terjadi, alamaaakk.. jahat nian. Masa sekelas pak Mahfud, seorang prof dengan kepintaran, kepiawaian, dan nama besarnya harus mengalami hal tersebut. Lalu apakah benar bahwa itu diputuskan di injury time menjelang deklarasi karena beberapa partai pendukung tidak sepakat dengan itu?. lagi-lagi wallahu a'lam. 

Lalu tersebutlah di sebuah stasiun TV melaporkan secara langsung dari tempat pertemuan Jokowi dan partai pendukungnya. Wartawan dan awak media dari lokasi sangat banyak dan membludak. Bahkan berita seolah memang berpusat pada tema ini. dan juga tak ketinggalan media selalu menampilkan berita yang seolah memprovokasi agar kubu sebelah segera juga melakukan konfrensi pers untuk mengumumkan paslonnya dan bisakah mengungguli pasangan yang sudah clear dideklarasikan. Kata reperter Tv tersebut: malam ini, negeri ini dibuat terguncang dengan adanya berita deklarasi Jokowi-Ma'ruf. Saya yang lagi duduk disamping ibu pun bertanya:
"Mak, terguncang bede Indonesia karena pengumuman capres-cawapres dari Jokowi. Jadi terguncangki juga ma?"
"Bissanya itu terguncangka. weeekkkk....."
Haha...haha.. ternyata my mother masih juga dalam suasana mencak. Pastilah membahas begini makin menambah suhu panasnya. Ahh... the power of emak-emak. Kalau sudah mencak, jangan coba diganggu lagi. Bahaya.... :D. Tapi, apa iyya ini mengguncang indonesia?. Kalau saya sih nggak. Terkejut iya. Karena sebelumnya bukan nama itu yang digadang-gadang. Atau mungkin karena hanya media yang menggadang. tetapi kalau dibilang terguncang, nggak kok. Saya pun dipihak yang sama denganmu mom. Tapi nggak pakai mencak ya. Lowes aja... jangan jadi pendukung yang rajin nyinyir dan mencak. Adab harus tetap didahulukan. Setuju kan?. 

Eh, ada tambahan lagi nih sebagai pelengkap cerita. Di tenagh asiknya nonton euforia deklarasi capres-cawapres, lewatlah iklan "Slimming Suit". Kelihatanya keren. Mungkin sekeren dengan harganya. Saya pun (lagi) bertanya ke ibu.
"Ma', kalau saya pake begituan, kenapai?"
"Ohhhh, Ka'tu ko"
"wkwkwkwkwkwk... "
Waduh... jawabannya sadis amat makkk.... Ada yang ngerti maksudnya?. kalau yang ketawa baca ini tentu ngerti. Arti dari "ka'tu ko" itu adalah "kamu putus". artiny badanku akan terputus kalau pakai alat itu. Secara badan sudah sekecil dan sekurus ini. Kalau makai begituan lagi, bukan langsing namanya tapi Langsung. Langsung Ka'tu/putus maksudnya. hahahaha.. ada-ada saja. Tapi lumayanlah menjadi ice breaker dari suasana mencak dan penuh harap menanti pengumuman-pengumuman malam ini.

*sekian cuitan dari pengamat dadakan pilpres 2019*
*saya tetap sama*
*2019GantiPresiden*
*Palopo, 9 Agustus 2018*
*Dipenghujung*


Rabu, 08 Agustus 2018

Dinyinyirin...?
Kalau mau ketawa-ketiwi?. Gampang aja. Cukup berkunjung ke fanpage atau akun tokoh besar negeri ini. Di barisan komentar akan bermunculan akun yang masih juga setia komentar menyakitkan, komentar kotor, komentar sakit hati, komentar orang belum move on, komentar lucu sampai komentar penuh amarah. Intinya, di dalam banyak ditemukan komentar nyinyir. Dan yang mengherankan adalah akun itu sering menebar komentar nyinyir tapi kok ngefollow juga dan rajin baca. Kan harusnya kalau baca postingan orang tapi malah naik darah atau nggak bisa menghentikan penyakit nyinyirnya, ya mending nggak usah baca postingan orang atau berhenti follow. Kan simole. Tapi mungkin begitulah dasar manusia yang meski tahu itu menyakitkan tetap aja dilakukan.

Contoh yang paling nyata  bisa kita lihat di akun Gubernur dan wakil gubernur Jakarta, pak Anis Baswedan dan Sandiaga Uno. Meski sebanyak dan sebesar apapun yang dilakukan tetap saja banyak yang nyinyir diantara yang bangga dengan beliau. Posting tentang aturan ganjil genap untuk jalan-jalan di DKI, diprotes. Posting tentang ASIAN GAMES baik tentang atletnya tentang persiapan penyambutan dengan nge-cat jalan dan tembok sepanjang kota DKI, diprotes. Posting kunjungan, juga diprotes. Posting perbaikan kali juga diprotes. Dan lucunya karena apapun yang diposting selalu saja diprotes alias dinyinyirin. Tambah aneh lagi karena tema nyinyirnya itu-itu aja. Tentang kali di DKI. Paling sering nyinyiran yang keluar "Pak, apa kabarnya kali item?. Airnya dah putih ya?". hahah.. bacanya jadi ngakak sendiri asli.... kok apa-apa nyinyirnya bahas kali mulu?. 

Hal yang sama juga terjadi untuk pak Sandiaga Uno. Nyinyiran pun datang bertubi-tubi. Dibilang kerjanya foto ajalah. Jalan-jalanlah. Ketawa ketiwilah. Yang mengundang komentar terbanyak malah saat kunjungan ke pulau sebira dan memposting foto sedang menunjuk sebuah pohon kering yang tumbuh di tengah-tengah air laut. Dengan tambahan caption: Kalian lihat pohon itu? Ya, seperti itu kalian yang jomblo #pohongalau. Wkwkwkwk.. banyak yang kesinggung. Entah karena dia lagi jomblo atau karena emang suka nyinyir. Pak wagub gak pantas nulis gitulah. Gak pantas bercandaanlah. Ngapain bahas biro jodohlah. Padahal ini maksudnya nggak gitu amat kali. Ini bercandaan, dan meski yang baca masih jomblo, anggap aja lagi dimotivasi agar bisa mengakhiri kejombloan hahaha... lah malah jadi panas dengan postingan. Pak sandi juga manusia kali. Bisa bercanda juga. Nggak boleh ya?. Lha wong Ridwan Kamil juga sering bercandaan begitu kok. Lebih ngiris malah. Tapi nggak senyinyir itu deh orang-orang ke dia. Jadi intinya bukan karena bercandanya beliau, tetapi emang karena selalu ada saja yang suka nyinyir. 

Jadi ingat pesan Ustadz Adi Hidayat saat memberikan wejangan ke Ridwan Kamil. Sesaat setelah perhitungan suara versi Quick Count keluar dan menyatakan RK menjadi Gubernur Jawa Barat untuk periode berikutnya. Saat itu UAH tidak langsung memberikan wejangan tetapi meminta kepada RK untuk mengklarifikasi tentang issue beliau. Ada yang mengatakan kalau RK itu orang Syi'ah. ADa juga yang mengatakan kalau RK itu pro-LGBT. Dan semua diklarifikasi oleh beliau bahwa semua itu tidak benar. Hanya saja dia selaku pimpinan di masyarakat majemuk, mau tidak mau akan memperhatikan kepentingan masyarakat secara umum, mengedepankan keamanan dan ketenangan bagi masyarakat. Sehingga terkadang kebijakan yang diambil dianggap sebagai kebijakan yang pro pada kalangan tertentu, padahal dia hanya ingin menciptakan ketenangan dan kedamaian dalam masyarakat. Dan UAH pun memberikan wejangan kepada RK agar bisa menjadi pemimpin yang baik. Karena menjadi seorang pemimpin bukanlah perkara sepele. Di pundak seorang pemimpin ada rakyat yang harus diperhatikan. Karenanya salah satu golongan yang dijamin masuk syurga diantara & golongan adalah Pemimpin yang Adil. 

Namun memang menjadi pemimpin itu bukan perkara segampang membalik telapak tangan. Apalagi mengayomi banyak masyarakat yang beragam karakter, Kemauan, Golongan, Ras, Agama. Mendapatkan pujian dan cacian itu biasa. Karena biar bagaimanapun ingin menyenangkan semua orang tetap saja tidak mungkin. Karena saat memihak pada hal yang satu maka hal yang lain akan menjadi kontra, begitu sebaliknya. Jadi tak mungkin bisa menyenagkan semua orang dan semua pihak. Namun yang bisa dilakukan adalah memilih yang lebih maslahat dari dua hal. Yang mana lebih maslahat maka pilihlah itu. tentu selanjutnya akan ada cibiran dan nyinyiran. Tetapi begitulah hidup. Akan selalu ada yang menyukai dan akan ada yang membenci. So, easy your life bro and sista... (^_^).

Selasa, 07 Agustus 2018

Tentang Janji
Siapa sih yang tidak pernah berjanji dalam hidupnya?. Tiap kita pastilah pernah berjanji, entah janji kepada sesame manusia atau janji kepada Allah. Dan entah janji dengan mengatasnamakan Tuhan-nya atau janji tanpa mengingat Tuhan-nya. Lalu bagaimana sikap dengan janji?. Berjanji sih boleh-boleh saja. Tetapi ada kaidah yang harus diingat kaitannya dengan janji. Pertama bahwa janji bukanlah sekedar kata yang keluar dari mulut. Tetapi lebih dari itu, janji itu berupa kata yang harus dipertanggungjawabkan dan mesti ditunaikan. Jika tanpa mengatasnamakan Tuhan saja mesti ditunaikan sebagai hak kepada sesame manusia, apalagi jika mengikutsertakan nama Tuhan. Janji berarti membuat sebuah harapan hadir pada yang diberi janji. Jika dia adalah manusia, maka tentu ia akan menganyam sebuah harapan. Karena yang kita sepakati bahwa janji itu berarti menitipkan percaya. 

Artinya apa?. Jika kita telah berjanji maka berusahalah menepatinya. Hal yang membuat janji tak tertepati kecuali jika telah berusaha dan memperjuangkan tetapi ujung dari usaha tidak bisa sampai pada takdir sesuai dengan janji. Barulah janji itu bisa dikatakan tidak tertepati dengan ketidaksengajaan. Misalnya nih, kalau kita telah berjanji dengan teman akan datang menemani mencari stelan baju, itu artinya teman telah percaya pada kita akan datang dan dia pasti berharap. Jika sudah berusaha memenuhi janji, telah siap, namun tiba-tiba ada kejadian yang membuat harus tercancel missal ada anggota keluarganya yang sakit, nah itu berarti tidak menepati janji karena memang unsur ketidaksengajaan. Bukan karena memang tidak punya niatan memenuhi janji dengan tidak berusaha pergi. Begitulah mestinya bersikap pada janji. Tidak dengan belum berusaha berbuat apapun langsung mundur teratur tidak memenuhi janji. Dengan alasan tidak bisa. Itu bukan nggak bisa namanya, tapi nggak usaha. Makanan aja nggak bisa datang sendiri dari langit langsung turun tanpa usaha. Apalagi datang memenuhi janji tanpa usaha. Itu namanya mustahil alias kagak mungkin. Yang jadi aneh ketika ada seseorang yang telah menanam janji, namun tiba-tiba berkata maaf tak bisa memenuhi janji. Padahal belum usaha apa-apa. Belum memperjuangkan apa-apa. Belum melewati rintangan apa-apa. 

Kaidah kedua yang perlu diingat adalah pesan Ali bin Abi Thalib : jangan membuat keputusan ketika sedang marah dan jangan berjanji ketika sedang bahagia. Apa makna dari pesan tersebut?. Keadaan marah dan senang adalah saat dimana kondisi kita tidak begitu memperhatikan logika dan realita. Marah dan bahagia adalah emosi yang membuat manusia sejenak lupa tentang hal lain akibat dari feel yang sedang dialami. Sehingga saat berada dalam kondisi ini sering manusia melakukan sesuatu yang diluar dari control dirinya. Lebih memperuturutkan apa yang dirasakan. Dalam keadaan marah, ego yang sedang menyetir kepala, saat begini acapkali manusia membuat keputusan secara spontan. Mengeluarkan kalimat sebagai keputusannya. Dalam keadaan gembira, seseorang saking bahagianya dia pun mengucapkan janji. Namun ketahuilah saat amarah dan kesenangan itu berlalu, barulah kesadaran akan keputusan dan janji yang sudah dibuat. Penyesalan barulah datang. Mengapa bisa membuat keputusan begini dan mengapa berjanji begitu. Jadi, jika ingin membuat janji… please jangan membuat janji kalau lagi happy-happy-nya. Cobalah berjanji saat sulit dan rintangan itu hadir. Dengan begitu keinginan untuk berjuang itulah yang akan menggerakkan dan menguatkan. 

Dan hal yang paling penting lagi dari kaidah sebuah janji adalah peringatan Allah dalam Al-Qur’an mengenai janji. Setidaknya ada 2 ayat yang bisa dijadikan rujukan mengenai janji ini. 

Qur’an surah An-Nahl ayat 91: 

وَأَوْفُوا بِعَهْدِ اللهِ إِذَا عَاهَدْتُمْ وَلاَ تَنْقُضُوا اْلأَيْمَانَ بَعْدَ تَوْكِيْدِهَا 

Dan tepatilah penjanjian dengan Allah apabila kamu berjanji dan janganlah kamu membatalkan sumpah-sumpah itu setelah meneguhkannya. 

Ketika kita berjanji meski dengan manusia tetapi Allah telah kita ikut sertakan di dalamnya, itu artinya perjanjian kita adalah dengan dengan Allah. Kalau sudah seperti itu maka Allah sendiri mengatakan janganlah membatalkan setelah menegaskannya atau memaniskannya. Ayat lain dalam surah Al-Isra ayat 34 Allah berkata: 

وَأَوْفُوا بِالْعَهْدِ ۖ إِنَّ الْعَهْدَ كَانَ مَسْئُولًا 

Dan penuhilah janji. Sesungguhnya janji itu pasti dimintai pertanggungjawabannya. 

Nah loh. Serem kan?. Yang namanya janji sekecila apapun tetaplah janji. Tidak boleh dibatalkan setelah meneguhkannya dan tak boleh mengingkarinya. Karena pemenuhannya, keinginan mewujudkannya semua akan dimintai pertanggungjawaban kelak di hadapan Allah. Dan disitulah tiap orang akan saling mempertanggungjawabkan perkataannya masing-masing. Dan bisa saja disitulah transferan amal dan dosa bisa saja terjadi. Jika yang dijanji merasa terdzalimi. Bener nggak?. Serem kan…?. Makanya jangan mudah berjanji tetapi mudah pula mengingkari. Mudah lagi membatalkan. Terkadang pula mudah amnesia. Padahal jelas, kita mau lari kemana di hari pertanggungjawaban coba? Sekecil dzarrah pun suatu janji, semua akan tetap dipertanggungjawabkan. Dan ingat ketika sebuah perkara hubungannya dengan Allah maka kita bisa langsung meminta ampunan kepada Allah. Tetapi jika itu kaitannya dengan manusia, maka ada hak manusia disitu, harus ditunaikan dulu, hharus mendapat ridho dari manusianya. Ini kaitannya dengan hak manusia dengan manusia lainnya. 

Jadi heran ketika ada manusia yang berjanji, tetapi dengan mudahnya amnesia dengan yang diucapkan. Tetapi ada lebih aneh lagi, jika ada yang telah berjanji namun dengan gampangnya membatalkan. Padahal belum melakukan apa-apa, belum berjuang apa-apa. Dan seolah janji yang pernah diucapkan tak berarti apa-apa. Cukup hanya dengan membatalkan dan kata maaf semua bisa kelar dan clear. 

Terakhir, ingatlah kembali hadist Rasulullah yang diriwayatkan oleh Muslim. Rasulullah bersabda: 

آيَةُ الْمُنَافِقِ ثَلاَثٌ: إِذَا حَدَّثَ كَذَبَ  وَإِذَا وَعَدَ أَخْلَفَ وَإِذَا ائْتُمِنَ خَانَ

Tanda-tanda orang munafik ada tiga; apabila berbicara ia dusta. Apabila berjanji ia mengingkari. Dan apabila dipercaya dia khianat. (HR. Muslim, Kitabul Iman, Bab Khishalul Munafiq no. 107 dari jalan Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu). 

Bukankah janji melalui semua tahapan ini?. Pertama di berbicara. Perkataannya pun berwujud sebuah janji. Dan ketika telah berjanji, orang lain tentu telah menitip percaya padanya. Namun saat yang diucapkan tak dipenuhi, artinya perkataannya adalah dusta, janjinya telah diingkari, dan berujung pada khianat. Karena orang lain telah menitip percaya tetapi ia mengkhianati kepercayaan itu. Maukah kita disebut orang munafik teman?. Sudikah kita kelak dihadapan Allah kita dipanggil dengan panggilan “yaa ayyuhal munafiqun…”. Seorang mukmin tampil beda dengan munafik. Apabila dia berbicara, jujur ucapannya. Bila telah berjanji ia menepatinya, dan jika dipercaya untuk menjaga ucapan, harta, dan hak, maka ia menjaganya. Sesungguhnya menepati janji adalah barometer yang dengannya diketahui orang yang baik dari yang jelek, dan orang yang mulia dari yang rendahan. (Lihat Khuthab Maka janganlah menanam janji jika tak mau menepati. Jangan mengumbar janji jika tak bisa memperjuangkan. Jangan mudah berkata tetapi tak punya aksi. Intinya, Jangan NATO. 

Terlebih sekarang dalam kondisi lagi banyak-banyaknya yang caper karena pilkada atau pilpres. Janji ada dimana-mana. Bahkan diobral dmana-mana. Jadi, Jika punya janji pada teman, berusahalah menepati. Jika punya janji pada orang tua, penuhilah. Jika punya janji pada wanita/pria perjuangkanlah. Jika punya janji pada masyarakat/rakyat maka laksanakanlah. Jika punya janji langsung kepada Allah terlebih tunaikanlah. Tahukah bahwa janji itu ngeri kawan…?

Palopo, 7 Agustus 2018. 23.04 p.m.

Selasa, 31 Juli 2018

Untukmu yang Patah Hati
Pernah menasehati orang yang patah hati?. Pernah menertawai orang patah hati?. Pernah pengen terpingkal-pingkal melihat orang yang lagi patah hati?. Susah menasehatinya kan?. Susah ngasih tahunya kan?. Menasehati orang lain memang perkara yang lebih mudah daripada menasehati diri. Menasehati orang dalam kondisi bukan kita yang mengalaminya memang mudah banget. Simple dan greget. Tetapi saat kitalah yang menerima kondisi itu, merasakan sendiri, barulah kita sadar mudah menasehati tetapi tidak mudah menjabarkan nasehat yang keluar dari mulut kita. 

Untukmu yang lagi patah hati. Apa kabarmu? Masihkah amarah menggelayutimu?. Masihkah kecewa merajam seluruh sendi-sendimu?. Masihkah kesedihan menyelimuti keceriaanmu?. It's ok...
Bersedihlah...
Menangislah...
Menggerutulah...
Tidurlah...
Merataplah..
Tapi jangan lupa bangkit.
Sadarlah bahwa selama ini engkau salah memperjuangkan.
Buktikan...
Bahwa dia yang telah singgah lalu beranjak pergi
Adalah orang salah kau perjuangkan
Buat ia menyesal telah menyia-nyiakan perjuangan tulusmu.
Kepalkan tanganmu
Kau pun berhak bahagia..

Bagi dirimu yang sedang patah hati. Lakukan hal-hal yang manusiawi orang lakukan. Tapi ingat jangan lupa move on. Apa yang perlu kamu lakukan?
  • Menangislah.
  • Berteriaklah jika perlu
  • Ratapilah
  • Biasakan Pergi ke tempat dimana semua kenangan itu ada. Agar sakitmu yang sakit tersembur semua sakitnya. Meski sangat sakit. Tak mengapa. Keluarkan semua. Rasakan dalam-dalam. Setelahnya engkau akan merasa lebih plong.
  • Curhatlah. Cari teman untukmu berbagi. Kamu pasti punya teman tempatmu cerita banyak hal. datangilah. Berceritalah. bebanmu akan berkurang. Jika tak bisa menceritakan semuanya, minimal ada yang telah kau urai.
Lalu berkemaslah... perbaiki dirimu. Ubah dirimu jadi lebih baik. Buktikan.. bahwa kau layak bahagia. Dan bukankah:
"Balas dendam terbaik adalah menjadikan dirimu jauh lebih baik".
Dan yang paling terpenting dari kesemuanya adalah kembalikan ke Allah. Saat hatimu tersakiti, kepercayaanmu dikhianati, disitulah juga keyakinanmu akan rububiyah-Nya sedang diuji. Apakah dirimu akan kalah dan terkalahkan atau kau akan kembali menjadi pribadi yang lebih baik, lebih taat, dan lebih dekat pada-Nya. Janji manusia boleh terkhianati, tetapi janji Allah adalah pasti. Ada banyak janji manusia yang terkhianati. entah dalam kondisi halal atau belum. entah dalam kondisi mengikutsertakan nama Tuhannya atau tidak. Carilah keridhaan Allah, bukan keridhaan manusia. Maka perbaiki dirimu, jadilah lebih baik, jadilah lebih taat agar engkau lebih bermartabat.

(Demi apa coba posting tulisan begini?. Demi memenuhi ambisi menulis dan posting blog. Meski juga nggak nyampe kuota bulanan. tapi paling tidak, tercapai 10 hahaha.... Cari ide tulisan emang gampang-gampang susah sist...whatever... #kontemplasidaritulisanradityadika)
Koma yang Berakhir Titik
Ini ada berapa episode?
Entah kau ataupun aku, adakah yang tahu berapa lama waktu berlalu?
Aku pun sejenak lupa kapan dimulai episode itu
Ini bukan episode horor.
Apalagi episode cinta
Maupun episode kriminal
Teman, Ini episode kita berdua 
Ini layaknya episode drama harian yang ringan nan garing
Mengapa?
Karena kau sadar apa tidak, cerita tiap episodenya selalu sama.
Apanya yang sama?
Bukankah cerita, kisah, candaan, masalah, bahkan bahasan tak pernah sama?
Iyya. Benar sekali....
Lalu kenapa?
Apa yang salah?
Apanya yang sama?
Kok...?
Kau tak sadar?
Jika tiap episode kita selalu berakhir sama
Berakhir dalam diam
Berakhir dalam tanda titik di kalimat yang aku buat
Hingga rasanya aku berpikir, akulah yang selalu jadi tokoh terakhir dalam scene penutup
Layaknya drama pantomim.
Atau drama monogram.
Aku selalu menjadi pemegang kunci tiap dialog dalam drama.
Menggantung bukan?
Dan aku pun jadi bertanya, apakah dialog ini benar membosankan?
Jika begitu, maafkan aku teman.
Aku tak lagi berusaha membuat dialog 
Meski ingin rasanya kau tahu rasanya melakoni peran ini.
Sesekali kau pun berpantomim sendiri
Menutup scene dengan tanda titik yang harusnya masih koma.
Tak Perlu Berlelah-Lelah
Mulut telah capek merangkai kata perkata. Tangan pun telah lelah menekan tiap tuuts keyboard untuk menuliskan. Dan fisik telah letih membahasan dengan bahasa tubuh. Apa yang diperoleh?. Apakah penjelasan telah sukses tersampaikan?. Ada masa, sesuatu perlu kita jelaskan. Dan ada keadaan yang mesti kita clearkan. Dengan segenap yang kita bisa penjelasan pun bertubi-tubi. Tak bisa secara langsung, mungkin secara tak langsung. Apalagi media semakin bersahabat menyambunglidahkan.

(Terkadang) perlu diam. membiarkan orang menafsirkan sendiri. Pula terkadang harus terpaku, membiarkan keadaan bercerita sendiri. Karena seberapa lama dan banyak penjelasan yang diberikan, tak ada yang sampai ke telinga dan ke hati. Butuhkah kita menjelaskan diri kita kepada orang lain sedetailnya?. Ini loh saya anak dari orang tua yang bla..bla... yang tinggal di bla..bla.. yang pendidikannya sudah bla..bla.. yang punya kelebihan bla..bla... yang saat ini merintis ini itu. Yang sekarang lagi bahagianya karena bla..bla... yang lagi kesel banget karena bla..bla.. Yang hari ini ngenes banget bla..bla..bla.. Yang sedih banget, kecewa banget, marah banget, padahal sebenarnya bla..bla.. 

It's ok, bercerita pada orang lain membuat hati menjadi plong. Setidaknya beban yang menghimpit di dada bisa diurai sedikit demi sedikit via ekspresi saat menceritakannya pada orang lain. Betullll... bahagia yang disampaikan kepada orang lain, membuat kita lebih bahagia dan pengen berbagi bahagia. tetapi semua ada kadarnya. Tak perlu sampai berlelah-lelah menyampaikan semuanya. Tak perlu berlelah-lelah menjelaskan detailnya. Meski yang kita ceritakan adalah orang yang senang pada kita, sebenarnya tak begitu butuh semua harus dijelaskan. Bahagia kita toh tak perlu over dipamerkan padanya. dan sedih kita tak perlu banyak disandarkan padanya. Dan jika dia orang yang tak menyukaimu, seberapa keras kau bercerita bahagi, sedih, lara, pelik, bahkan kebenaranmu. Dia takkan percaya apa yang kau sampaikan. 

Ingatlah kata ali bin Abi Thalib:
Tak perlu berlelah-lelah menjelaskan kepada orang lain siapa dirimu. Karena yang menyukaimu tak butuh itu dan yang membencimu tak percaya itu.

Pun akan sama dengan kepemilikan. Tak perlu berlelah-lelah menjelaskan, mengumumkan, mengumandangkan, dan memastikan. Karena semakin dijelaskan semua justru makin absurd. Apalagi menjelaskan dengan sebuah justifikasi, permohonan maaf, dan juga alasan kekhilafan. Absurd yang mutlak.

#yayaaff #akhirjuli18 #310718 

Minggu, 29 Juli 2018

Tiap Kita Punya Peluang yang Sama
(Mungkin) kita pernah berpikir, apakah hidup ini adil?. Kenapa harus ada yang miskin namun ada yang kaya. Mengapa ada yang fisiknya sempurna dan ada yang pas-pasan bahkan kurang. Mengapa ada yang selalu bergelimang kemudahan sedang ada yang justru susah melulu. Mengapa ada yang sampai beberapa turunan tetap aja kaya raya dan ada yang miskin sampai ke akar-akar. Dan mengapa ada yang diberi kelebihan kecerdasan namun ada yang meski belajar berkali-kali nyungsep aja tuh pikiran entah gmna lagi caranya. Ada yang pernah berpikiran begitu?.

Tiap kita memiliki kelebihan masing-masing. Dan kelebihan itu adalah titipan yang dengannya Allah berikan sebagai ladang amal bagi kita. Apakah dengan kelebihan itu membuat lebih dekat dengan Allah atau justru makin menjauh. Ada diantara kita yang dititipi harta, dengannya apakah bisa membantu orang lain. Ada yang dititipi pangkat/kedudukan, dengannya apakah bisa menjadi pemimpin yang dapat membuat kebijakan lebih maslahat. Ada yang dititipi kecerdasan, apakah dengannya mampu memikirkan dan menghasilkan ide yang bermanfaat. Dan ada yang dititipi dengan keelokan rupa, dengannya apakah bisa mengajak orang lain menjadi lebih bermartabat. 

Dan tak ada satu pun diantara kita yang tak punya kelebihan. Hanya saja yang menjadi sorotan kebanyakan manusia selalu pada aspek tertentu. Misal dalam kepintaran, yang disorot adalah mereka yang pandai eksak, pandai bahasa inggris, pandai buat robot, dsb. Padahal kepintaran itu banyak. Tipe kecerdasan itu banyak. Bahkan yang pandai ngomong aja sudah pintar. Pandai mengorganisir kata-kata. yang sering berempati pun juga adalah cerdas. Cerdas secara interpersonal. dalam segi kelayakan hidup, yang jadi sorotan terkadang adalah mereka yang jadi pejabat. Yang punya pangkat tinggi. Yang terkenal. Yang bergelar prof, Dr, dan deretan-deretan lainnya. Dan lupa pada mereka yang mungkin gelarnya tak sebanyak itu, pendidikannya tak setinggi itu, tetapi maslahatnya lebih banyak. Ada yang sebagai petani, tamat SMA tetapi memberikan sumbangsih pada ketersediaan pangan di masyarakat. Bukankah mereka juga punya maslahat dan sukses?. 

Sebagai apapun. Kerja apapun. Jabatan apapun. Gelar apapun. Di tempat manapun. Semua kita punya kelebihan. Dan pada kelebihan itulah Allah menitipkan peluang yang sama meraup amal. Jangan bilang bahwa yang kayalah yang lebih punya peluang masuk syurga. Kalau begitu Allah itu nggak adil dong. Mau kaya atau miskin tiap kita punya peluang yang sama. Dengan kelebihan yang kita miliki disitulah ada nilai-nilai peluangnya. Mengapa bisa? Kan orang kaya bisa nyumbang tuh lebih banyak. Kalau yang miskin bisa nyumbang apa coba?. Gini... Oke, yang kaya emang punya banyak harta bisa nyumbang berapa pun bisa. Tetapi yang miskin bisa meraup amal dengan kelebihan yang dimiliki. Kelebihannya apa? dia bisa bekerja banting tulang melakukan pekerjaan yang orang kaya tidak lakukan. Kalau dia bekerjanya ikhlas amal juga bisa mengalir luar biasa. Dan tak bisa digunakan matematika duniawi untuk membandingkan besarnya yang dikeluarkan oleh si kaya dan si miskin. Karena perhitungan Allah nggak sama dengan perhitungan manusia. 

Dan lagi, Karena kelebihan itu adalah ujian, nah justru si kaya ini mesti melewati banyak halte pertanggungjawaban kelak. Kalau yang hartanya sedikit kan lewat jalan tol. Apa yang mau diperiksa kalau sedikit. Bener kan? Nah itu kelebihannya juga yang miskin. Meski si kaya punya banyak harta, kalau harta nggak dipakai untuk membantu sesama, maka harta itulah kelak yang akan menjerumuskannya di halte perhitungan. Nahk, kalaupun mereka sering nyumbang, yang menjadi ujian bagi mereka lagi adalah apakah mereka ikhlas? nggak cari perhatian? Nggak pengen dipuji? nggak riya? kan cuma Allah dan dia yang tahu. tetapi kelak semua itu akan dihisab. Sedangkan yang kurang harta, kalau dengan kurangnya harta dan kesusahan yang dimiliki membuat ia lebih banyak bersabar, qona'ah, tetap bekerja, dan berprasangka baik pada Allah, lewat itulah pahalanya akan mengalir. 

Berarti intinya, mau kaya atau miskin. Mau diberi banyak kemudahan atau tidak. Diberikan kelebihan dalam parameter manusia apa tidak. Kesemuanya kembali ke Sabar. Sabar mengeluarkannya di jalan Allah bagi yang memiliki atau sabar dalam ketidakpunyaan. Bukankah kelak di pintu syurga malaikat akan menyambut manusia dengan kalimat: Salamun 'Alaikum Bimaa Shabartum?. Selamat kepadamu atas kesabaranmu di dunia. Yang masuk ke syurga kan nggak ada jaminan orang kaya semua atau orang miskin semua. atau orang cantik semua. atau yang pejabat semua. atau orang awam semua. Artinya mau kaya atau miskin. mau pejabat atau bukan. Mau darah biru atau darah hijau. Mau terkenal atau tidak. Mau tua atau muda. Mau kulit putih, kunging atau hitam. Semua punya peluang yang sama masuk syurga. Tetapi kenapa dikatakan yang sabar? Itu karena bagaimanapun kita, kelebihan dan kekurangan dalam sudut pandnag manusia, semuanya akan diuji dengan kesabaran. Maka jadilah orang yang sabar. Sabar melaksanakan perintah-Nya. Sabar membantu sesama. Sabar menerima ketiadaan. Sabar menerima masalah. Sabar Mmendapatkan jabatan. Sabar menjalani kehidupan...

*Malam yang makin larut. memenuhi keinginan dan kebutuhan akan tulisan. Namun, dengan kondisi yang kurang fit, entah tulisan ini enak dibaca apa nggak. Pesannya nyampe apa nggak*

Palopo, 29 Juli 2018. 21.58 p.m.
Handshock. Wajibkah?
Saat membuka instagram, tertulis di salah satu caption gambar akun muslimah : "Pakain handshock itu penting atau penting amat?". Terus dilanjutkan dengan iklan handshock dari akun lainnya. Sejenak pertanyaan yang pernah terlintas kembali terlintas dibenakku. Saya pun mengomentari postingan tersebut. i said : Tergantung kondisi lpergelangan baju. kalau pergelangannya dengan ukuran yang tepat ya nggak musti pakai handshock, tetapi kalau emang pergelangan bajunya lebar atau lebar amat, ya musti pakai handshock. Afwan, mau bilang kok makin kesini penggunaan handshock fungsinya lebih ke fashion ketimbang untuk melengkapi kesempurnaan berpakaian. Afwan just my opinion".
Maksud saya apa?. Begini.......

Awalnya handshock jarang digunakan dan dipasarkan. bahkan namanya pun jarang terdengar. Namun dengan segala perkembangan hijrah dengan segala euforianya, banyak properti hijrah pun berseliweran. tersebutlah handshock, ciput, bandana, dll. Salahkah? oh nggak kok. Trus kenapa? kok kayak nyinyir?. Eits.. bukannya begitu masbro dan mbak bro. Hanya mau menyentil sisi sensistivitas dan sisi ikhlasitas kita. Dengan menjamurnya segala properti hijrah baik untuk akhwat maupun ntuk ikhwan tidak ada yang salah. Bagus malah. Masyarakat sudah familiar dengan benda-benda tersebut. Juga familiar dengan nama-nama tersebut. Nggak musti lagi menjelaskan dengan lama kalau lagi nyari. dan lebih penting lagi, kalau properti itu banyak digunakan oleh masyarakat. Pemandangan akan lebih adem. Dan busana makin banyak yang sopan dan tertutup.

Hanya saja, dengan fashion yang makin berkembang dibuatlah aneka properti itu misal hijab dengan aneka warna, ggaya, dan nama. Contohnya saja handshock. Mulai dari yang kainnya kaos sampai rajutan, dari yang model lurus aja sampai model jempol dan model cincin. Dari yang berneci, berumbai sampai berenda. semua ada dan lengkap. Bahkan banyak yang berpita plus cincin. Hmm.. gimana mau jelasinnya yah?. Apa sih esensi emnggunakan handshock?. Supaya aurat sempurnah tertututp kan> Yang mana yang diyakini sebagai aurat adalah seluruh tubuh kecuali muka dan telapak tangan. Jadi jangan sampai tangan bagian pergelangan ke atas itu kelihatan. Apalagi kalau lengan baju yang bermodel lebar. Maka dibuatlah handshock agar aurat benar tertutup dengan sempurna. Jika beberapa tahun yang lalu handshock itu cuman yang lurus aja, dan itu bisa sempurnah menutupi aurat. Kalau sekarang ditambahi dengan aneka model dan gaya. Salahkah?. Hmm... rasanyanggak salah. Mau pakai model jempol itu lebih menutup bagian tangan. mau pakai model cincin juga lebih menutupi pergelangan. Namun, dengan adanya tambahan gaya rumbai, renda, atau apalah maka handshock menjadi terlihat lebih menarik perhatian, cantik, unyu, pokoknya menariklah. Saya saja yang perempuan lihat akhwat makai handshock begituan serasa gmna gitu. Muncul pemikiran, wah tangannya cantik ya dengan handshock itu. Wah, akhwatnya makin cantik dengan handshock itu. Wah renda-rendanya makin membuat si akhwat makin unyu'. Wah, nih akhwat masya Allah shalehah banget

Gimana kalau yang lihat cowok alias ikhwan ya?. Kalau ketemu para akhwat dengan handshock yang menarik perhatian kayak gitu, bermacam model dari yang berenda sampai berumbai, trus tangan diangkat-angkat pula. Apalagi kalau dalam kelas si akhwat lagi kena giliran menjelaskan atau presentasi dan tangannya yang emang sudah dasar cantik makin dihiasi dengan handshock yang aduhai cantik. Kek gimana rasanya ya?. Hei.. itu kan kembali ke individunya si ikhwan kali. Makanya disuruh tundukkan pandangan. nah kalau pas jalan dan nunduk nggak lihat mukanya tapi handshocknya melambai? gimana? husshh.. pikirannya ngelantur. Kan bilangnya kalau saja. Dan saya saja kalau jalan ketemu para akhwat, yang menarik kedua tuk kuperhatikan setelah wajahnya adalah tangannya. Karena emang dari jauh handshocknya itu loh. 

Trus yang kedua lagi, handshock jangan sampai bergeser nilai fungsinya dari sebagai penyempurna menutup aurat ke penyempurna fashion. Sampai dengan semangatnya membeli dengan beraneka macam warna dan rupa. untuk apa? supaya bisa banyak fashion ketika bepergian. Bukankah jika begini nilai fungsinya telah bergeser?. Pernah banyak di share di medsos sebuah tulisan dengan judul "Hijrahmu palsu". Saat membacanya serasa saya pun disindir habis-habisan. Bagaimana kita dengan begitu bangganya menyebut diri kita telah berhijrah. Bangga dengan jilbab kita yang semakin panjang nan lebar berkibar. Kita semakin bangga dengan gamis yang beraneka warna nan cantik, lebar dan banyak. Juga kita begitu bangga dengan penampilan hijrah kita yang full dengan properti lainnya. Kaos kaki nyantol dengan sukses. handshock melekat dengan cantik. dan bahkan cadar menutupi wajah dengan anggunnya. Namun sayang, hanya mengedepankan itu. hanya puas dengan itu. Tampilan diprioritaskan, entah ilmu pada urutan keberapa. Karena tak ada bedanya dengan orang kebanyakan. Foto pun berseliweran dimana-mana. Ngumpul bareng gaya sama aja dengan yang bercadar dengan posenya. ala-ala selfie gitu. dikit-dikit cekrek pose foto dengan kerlingan mata di balik cadar. Tak lupa juga tangan handshock renda cincin dan pita  sengaja makin ditonjolkan. lalu apa beda antara yang awam dengan yang sudah merasa telah berhijrah? 

Tulisan tersebut menggelitik bangets sebenarnya. Kalau kita masih mau menerima nasehat dan saran dari orang lain. Karena jangan sampai niat kita yang ikhlas inginberhijrah harus dikotori dengan kebiasaan yang sama dengan orang awam. Atau mesti tergerus karena properti hijrah yang tidak kita sesuaikan lagi dengan fungsinya. Bukankah jilbab pun sebenarnya tak ada patokan khusus harus kain bagaimana? jadi mesti pakai karung pun bisa, asal nilai fungsinya dapat. Maka begitupula jika ingin menyempurnakan hijrah atau apakaian. Sesuaikanlah dengan porsinya. Sesuaikan dengan fungsinya. Jika mengumpulkan dan memakainya bukan lagi dengan niat untuk menyempurnakan aurat, mari diperbaiki kembali niat kita. Pun sama dengan handshock (yang jadi sorotan tulisan kali ini), jika lengan baju bisa tanpa handshock, ya kenapa tidak. Daripada memakainya dengan tujuan agar tangan terlihat lebih indah. Mending sederhana tetapi nilai fungsinya dapat. daripada luar biasa tetapi esensi pun semakin jauh.

Afwan. just my opinion. Bukan menulis karena tendensi apapun atau dari siapapun. Hanya sebagai renungan untuk para muslimah, utamanya untuk diri pribadi. Jangan sampai niat untuk memperbaiki diri jadi lebih baik menjadi sia-sia karena niat yang salah rute. Wallahu a'lam. #piss 

Palopo, 29 Juli 2018. 15.08 p.m.