Dunia Yaya

Sabtu, 16 Maret 2019

Sebuah Surat dari Ibu dan Ayah
Anakku… 
Ketika aku menjadi tua, aku berharao kau mengerti dan bersabar padaku. Jika aku memecahkan piring atau menumpahkan sup di meja karena penglihatanku berkurang, aku berharap kau tidak memarahiku. Orang tua itu sensitive, selalu merasa bersalah ketika nada suaramu meninggi 
Ketika pendengaranku memburuk dan aku tidak mendengar apa yang kamu katakana, aku berharap kau tidak memanggilku “Tuli”. Tolong ulangi apa yang kau katakan. Atau tolong tuliskan saja. 

Maafkan aku anakku… 
Aku semakin tua. Ketika lututku menjadi semakin lemah, aku berharap kamu memiliki kesabaran untuk membantuku bangun. Seperti bagaimana aku membantumu bangun saat masih kecil. Belajar cara berjalan. Aku berharap kamu mau bersabar denganku. 

Ketika aku mengulang-ulang kalimatku sendiri seperti kaset rusak. Aku berharap kamu tetap mau mendengarkanku. Tolong jangan mengejekku atau bosan mendengarkanku. Apakah kamu mengingat ketika kamu masih kecil? Dan kamu menginginkan sebuah balon?. Kamu terus saja mengulangnya sampai kamu mendapatkan apa yang kamu inginkan. 

Maafkan juga atas aroma tubuhku. Aroma orang renta. Tolong jangan memaksaku untuk mandi. Tubuhku lemah. Orang-orang tua mudah sakit ketika kedinginan. Aku berharap aku tidak mengotorimu. Apakah kau ingat ketika masih kecil? Aku dulu sampai mengejar-ngejarmu, karena dulu tidak mau mandi atau makan. Aku berharap kamu bisa bersabar denganku. 

Ketika aku menjadi rewel. Itu semua adalah bagian dari menjadi tua. Kau akan mengerti ketika engkau menjadi tua. Dan jika engkau memiliki waktu yang luang, aku berharap kita bisa bicara walaupun beberapa menit. Aku selalu sendirian di sepanjang waktuku. Dan tidak ada orang yang bisa diajak ngobrol. Aku tahu kamu sibuk dengan pekerjaanmu. Walaupun kamu tidak tertarik dengan ceritaku, tapi bisakah menyediakan waktu untukku?. Apakah kau ingat ketika engkau masih kecil? Aku mendengarkan terus ceritamu tentang mainan kesayanganmu. 

Bila saatnya tiba dan aku hanya bisa berbaring di tempat tidur, aku berharap kamu bersabar merawatku. Maafkan aku jika aku mengompol atau membuat berantakan. Aku berharap kamu memiliki kesabaran untuk merawatku selama hari-hari terakhir di hidupku. Aku mungkin tak akan tinggal lama. Ketika waktu kematianku datang, aku harap engkau memegang tanganku dan memberikanku kekuatan untuk menghadapi kematian. Dan jangan khawatir… ketika aku akhirnya bertemu dengan sang pencipta kita, aku akan berbisik pada-Nya untuk memberkahimu. Karena engkau telah mencintai ibu dan ayahmu. 

Terima kasih untuk perhatianmu anakku. Kami mencintaimu dengan cinta yang berlimpah-limpah. 

(Ibu dan Ayah)

Ini adalah isi dari sebuah video pada Modul Kesejahteraan Sosial P2K2 PKH. sejak daring dilaksanakan, materi ini s atu-satunya membuat terhenyak lalu berderai. seolah materi ini menampar sana-sini. Banyak pelajaran yang baru tentang mereka yang telah lanjut usia, termasuk orang tua kita. Benar... bahwa, seiring berjalannya waktu dengan kesibukan, aktivitas, bahkan dengan keluarga baru yang dipunyai membuat beberapa mata dan hati luput untuk mengingat kembali 2 sosok manusia yang punya banyak pamrih pada kita sejak lahir bahkan sebelum lahir. Padahal, masa yang berganti harusnya juga menggantikan posisi dan peran. Jika sebelumnya kita yang dirawat dengan penuh kasih sayang, berarti sudah sepantasnya kini gantian kita yang merawatnya dengan penuh kasih sayang. Bila sebelumnya mereka yang banyak bersabar dengan segala ocehan, rewel, permintaan, bahkan juga dengan kesalahan yang dilakukan, itu artinya saat ini kitalah yang balik memperlakukannya seperti itu. ada pepatah yang kalu dipikir-pikir ada benarnya juga.
"Satu orang tua bisa merawat 10 anaknya. Tetapi 10 Anak belum tentu bisa merawat 1 orang tua"
Mengapa demikian? Setelah dewasa kita akan punya keluarga. Punya kesibukan. Punya anak. Punya dunia baru. Dengan semua yang dipunyai membuat lupa atau bahkan saling dorong dan sorong siapa yang harusnya merawat orang tuanya di masa senjanya. 

Dan lagi, saat pertemuan kelompok di hadapan ibu-ibu, sambil membacakan rentetan kalimat dalam video, pikiran langsung tertuju ke dua sosok. Tanpa dipersilahkan pun, derai sudah membanjiri. Begitupun ibu-ibu yang lain, banyak yang menangis mengingat orang tua masing-masing. Dan tak perlu diperjelas pun, sosok yang paling kuingat adalah ayahku. Rasanya banyak materi disini yang menampar dan membelajarkan bagaimana sebenarnya kondisi dan mau dari orang tua. Iyya, ada banyak yang tidak kuketahui. jika bisa mengulang waktu, banyak yang ingin kulakukan. termasuk banyak menemaninya bercerita. Maafkan atas ketidaktahuanku... dan maafkan atas pengabdianku yang amat sangat kurang untukmu. 

Bersyukurlah jika masih punya orang tua yang lengkap. Berbahagialah jika masih bisa berbakti. Bersabarlah menuntaskan pengabdian kepada mereka. Jika masih punya waktu dan sempat, jangan biarkan mereka sendiri tanpa teman cerita. berbuatlah yang terbaik kepadanya selagi masih bisa.

#rinduuntukayah #family #p2k2 #fds #pkh #kemsos

Minggu, 10 Maret 2019

To be a Leader
Ada banyak orang yang berbondong-bondong mencapai puncak jabatan. Alasannya beraneka ragam mulai dari alasan idealis sampai alasan pragmatis. Itu hak setiap orang sih, mendapatkan jabatan tertentu. Hanya saja yang perlu diingat bahwa, adanya jabatan atau kekuasaan itu mestinya tidak menjadikan diri pongah melihat orang lain dari tempatnya. Seolah tempat orang lain adalah rendah dan pemberiannya ke orang lain seolah karena dirinya. Hey... Jabatanmu hanyalah wazilah bagimu menuntaskan kepemimpinan. Pemberian kepada orang lain esensinya bukanlah pemberianmu. Allah menakdirkan melaluimu orang lain mendapatkan manfaat.

Jika kepemimpinan yang kau dapatkan di benakmu hanya tentang "posisi dan posisi", tentang "wah dan wah", atau tentang "tawwa dan tawwa". Mungkin karena itulah ketamakan merajai hatimu dan kepongahan meracuni nuranimu. Dunia ini akan selalu berputar. Segala hal ada awal dan akhir. Kepemimpinan dimulai dari kacung menjadi bos dan berakhir dimisioner. Keahlianmu diawali dengan pemula lalu jadi ahli dan berakhir lupa. Posisimu diawali dari bawah lalu menempati puncak selanjutnya jadi pensiun

Jika dengan kepemimpinanmu membuat dirimu begitu bangga merendahkan orang lain, sesungguhnya engkau telah turun dari puncak posisi di mata orang lain. Engkau tinggi yang rendah. Engkau hebat yang perlu dikasihani. Bukan posisi yang membuat orang lain terperangah berdecak kagum, tapi seberapa greget aksi yang telah, sedang, atau akan dilakukan. "Leadership is an action not position"

Senin, 04 Maret 2019

Trust What You Feel
Belajarlah pada mereka
Yang terus saja melangkah dengan keyakinannya
Bahwa Allah memberi jalan yang tepat sesuai kadar-Nya
Bahwa hidup ini terkadang perlu untuk benar-benar tuli
Pada setiap premis-premis yang berserakan 
Karena selagi nafas masih menderu
Berbuatlah yang terbaik
Nafikan umpatan
Biarkan cibiran
Tepis keluhan
Kita tak pernah tahu bagian mana dalam hidup kita yang benar-benar diterima sebagai sebuah amalan. .

"Trust what you feel. Not what you hear"

(Yaya Afifah)
Sky Castle
Ada yang sudah menonton drama Korea Sky Castle?. Gimana? Komentarnya apa?. Kalau menurutku, drama ini cukup mewakili beberapa fenomena sosial yang terjadi di Korea (meski saya belum pernah kesana, tetapi katanya sih emang gitu), dan boleh jadi juga terjadi di sekitar kita. Drama ini menarik. Mengusung tema keluarga dan pendidikan. Bagi yang suka drama tentang kehidupan yang tidak menawarkan romantika saja, ini pilihan yang tepat. Isinya, all about family. 

Kisahnya bercerita tentang beberapa keluarga "elit" yang saling bersaing menjadi terbaik dan terhebat diantara semuanya. Salah satu hal terhebat yang dimiliki oleh orang tua selain rumah yang mewah dan keluarga terhormat adalah "anak yang sukses masuk sekolah kedokteran terkenal" yang nantinya akan menjadi seorang dokter. Hmmm... ternyata bukan cuma di Indo ya, profesi dokter itu menjadi profesi yang menggiurkan. Secara umum, cerita ini memperlihatkan sekumpulan keluarga yang tergabung dalam komunitas "Sky Castle" dengan kebiasaan dan kebanggan yang telah turun-temurun dilakukan. Meski telah berada di lingkungan yang super mewah dengan rumah yang besar dan halaman yang luas, juga pekerjaan masing-masing yang semuanya mapan, masih belum cukup membuat mereka berhenti saling iri, saling membanggakan, dan saling menjatuhkan. Yang selanjutnya menjadi korban adalah anak. Karena setiap keluarga berlomba-lomba menjadikan anaknya yang paling hebat, paling pintar, dan masuk ke sekolah kedokteran. Les diberikan, sekolah tambahan diberikan, istirahat direnggut, bermain tidak ada, bahkan tertawa dan bercengkrama bersama keluarga pun menjadi kondisi yang langka. Anak mereka harus pintar, harus juara, dan harus jadi dokter. Para orang tua tidak pernah melihat dan mendengar, apa tanggapan anaknya. sukakah dengan jalan yang dipilih oleh orang tuanya. Disinilah banyak kperistiwa yang menyentuh sensitivitas kita. Sekaligus mengoreksi diri, jika yang telah menjadi orang tua, jangan-jangan kita pun telah melakukan hal yang sama.

Sebenarnya melihat drama ini, saya teringat film Korea  "Jungle Fish". Temanya sama, hanya saja Jungle fish fokus mengkritik kebiasaan nyontek, sedangkan sedangkan Sky Castle lebih mengkritik ke perilaku dan mindset orang tua.

Beberapa hal yang kusimpulkan dari drama ini:
1. Terkadang orang tua begitu keras membuat anak mereka sukses dalam pendidikan, tapi lupa membuatnya sukses dalam etika. Karena mereka lebih sibuk membuat anaknya menjadi juara diantara teman-temannya, akhirnya anak mereka pun ikut menjadikan diri mereka hidup dengan mengejar prestasi dan sibuk bersaing. teman baginya adalah saingan. Terbentuklah anak dengan karakter mau menang sendiri, cuek, dan tidak peduli pada orang lain, memandang rendah orang lain, tidak mendengarkan orang lain, dan tentu menjadi manusia yang selalu mau menang sendiri.  Buat apa berintelektual tetapi tidak bermoral. Bukankah manusia itu bukan hanya makhluk indivudual tapi jg makhluk sosial?

2. Terkadang pula orang tua berusaha sangat keras agar anaknya bisa menduduki puncak tertinggi piramida untuk membuat kesombongan. Saat anak-anak mereka berhasil menjadi pemenang, menjadi juara, atau mendapatkan pekerjaan yang baik Dan akhirnya anak pun akan berusaha mengejar puncak itu dengan segala cara, menafikan kepedulian, menyingkirkan kebersamaan. Karena mindset sudah diprovokasi mengejar dengan melabrak aturan dan kebiasaan. Ah, iya bukankah Allah memang telah mewanti-wanti sebelumnya bahwa anak pun bisa menjadi sesuatu yang membuat sombong?

3. Pertarungan idealisme. Benar, terkadang kita idealis di suatu masa, tetapi akan pudar seiring waktu dengan todongan "kemewahan". Hingga apa yang idealis diawalnya akan menjadi apatis setelahnya. Karena memang dalam hidup ada dua jalan. Jalan lurus dan jalan berbelok. Di jalan lurus akan ditemukan air yang keruh dan di jalan berkelok akan penuh genangan air jernih. Tetapi kembali lagi bahwa "Memang melalui jalan yang lurus akan menemukan air yang jernih, tetapi pada air jernih tidak ada ikan yang besar"

4. Terkadang kita begitu terbahak melihat kekurangan dan kesalahan orang lain. Lalu sibuk berbangga dengan yang dipunya. Padahal sebenarnya kesalahan sendiri lebih banyak dan lebih terpuruk. Hanya saja kita terlalu terlena mengkritiki kesalahan orang lain dan larut dalam tawa yang membahana. Mungkin inilah yang sejak dulu dimaksud dalam pribahasa "Semut di dasar laut nampak, sedangkan gajah di pelupuk mata tidak nampak". 

5. Ketika kita membangun mindset ke anak bahwa sekolah adalah tempat "pertarungan" dan teman adalah saingan. Maka mereka akan menganggap teman-teman mereka adalah musuh yang harus mereka jatuhkan dan kalahkan. Mereka akan merasa puas sampai musuh benar-benar takluk, dan mereka menjadi pemenang. Saat pemikiran seperti ini dibangun dan tinggal di kepala mereka, bukan hanya pemikiran mereka yang benar-benar menganggap sekolah sebagai ajang unjuk kehebatan dan pertarungan, tetapi juga akan berimbas pada perilaku keseharian mereka yang bisa jadi memandang rendah orang lain, merasa paling benar, dan tidak mau berinteraksi. inilah yang dirasakan dan dikemukakan oleh Cha Ki Joon "Jika teman dianggap pesaing dan sekolah dianggap perang, lalu bagaimana kami beritikad baik?"

Whatever.. drama ini menurutku daebaaaakkkk... bukan drama receh yang menjual romantisme. Recommanded pokok na mah. Mungkin siapa yang melihat akan punya persepsi sendiri tentang drama ini. Tergantung sudut pandang kita masing-masing. Namun, paling tidak drama ini bisa mengetuk nurani siapa saja untuk mengoreksi bagaimana kita selama ini mendidik, apa yang selama ini kita bangun dalam mindset, dan apa tujuan kita memastikan keberlanjutan studi mereka. Benarkan semua untuk mereka?. Trima kasih writernim atas sajiannya yang apik. Gomawo......

Yaya Afifatunnisa
Palopo, Maret 2019

Selasa, 26 Februari 2019

Manusia yang "Manusia"
Pertarungan yang tidak akan pernah berhenti di dunia ini adalah pertarungan antara haq dan bathil. 

Sebuah keberhasilan tidaklah diukur dengan infrastruktur, tetapi diukur dari manusianya. Segala sesuatu tidak diukur dari bentuk fisik, tetapi bentuk fisik itulah yang memudahkan manusia untuk beribadah kepada Allah. Jika fisik yang dimiliki tidak menjadikan kita dekat dengan Allah, itu musibah namanya. Jadi, kemajuan suatu peradaban ada, jika manusianya benar-benar jadi manusia.

So, jadilah Manusia yang benar-benar manusia. Dan jadilah manusia yang memanusiakan manusia.

(Kontemplasi nasehat dari ceramah Ust. Felix Siauw)



Dunia Antah-Berantah
Di sebuah dunia entah berantah juga. Kala seseorang dengan hebatnya menyuarakan suara mahasiswa dengan lantangnya. Namun datang terlambat, lalu nyontek. Ditegur malah balik membentak dan berkata : "kayak tidak pernah saja kuliah". Asli pengen ngakak dengar cerita dari dunia entah berantah ini. Hello... Tidak semua orang kuliah kayak dirimu. Tidak semua yang kuliah sebelagu dirimu. Dan tak semua yang berstatus mahasiswa sepongah dirimu :D . Banyak yang kuliah. Bahkan levelnya lebih tinggi. Tempatnya lebih keren. Lebih cerdas. Lebih rajin. Lebih aktivis. Lebih-lebih yang lain, tetapi nggak sama dengan dirimu. Nggak sok hebat tetapi tumpul attitude tajam lidah. Jangan malah menjadikan dirimu bahan tertawaan mengatasnamakan mahasiswa tapi pikiran jauh dari kata mahasiswa. 

Aduhai, tak perlu lagi banyak dikaji. Jatuhnya malah makin memalukan. Lembar cerita dari dunia entah berantah itu masih banyak, tetapi nggak pengen nambah dosa membaca lembar perlembar kisah kepongahannya. Semoga ceritanya cepat tamat dan kisah itu cukup di dunia entah berantah.
Up To You-lah Nitijen
Sekarang memang rada sulit membedakan sesuatu. Tatkala memberi nasehat dianggap sebagai curhat. Membentak dianggap sebagai kritis. Dan menyuarakan ketidaksanggupan diri dianggap menyuarakan ummat. Dan keberpihakan dianggap rasis. Entah di sudut mana semua defenisi disimpan. Apakah defenisi istilah itu telah lebur bersama kebebasan berjubah hak asasi? Ataukah kita yang tak bisa lagi memilah dan menalar?

Ketika kemarin di lembar soal tertulislah kata Ali bin Abi Thalib : Jika engkau tak tahan lelahnya belajar maka engkau akan menikmati perihnya kebodohan". Dan fokus jawaban bukan pada 2 poin soal tetapi pada kalimat itu dengan mengatakan bahwa: ada kok orang yang pintar justru menggunakan kepintarannya untuk membodohi orang lain. Dan ada orang yang kurang pintar justru bermanfaat bagi orang lain. 

Nah, gimana mengomentarinya ya?. Bukankah termnya berbeda?. Dan bukankah bukan itu esensinya?. Jika ingin membahas banyak tentang "pintar" dan "bodoh", mari membuka forum yang dialogis, membangun nalar kritis, dan ilmiah. Dan lebih lucu lagi ada yang menganggap kata dari Ali bin Abi Thalib ini sebagai sebuah curhat. Apakah nasehat adalah curhat?. Apakah motivasi adalah curhat?. Mari menelisik makna curhat. Eh, bisa jadi tulisan ini pun dianggap sebagai curhat. Up to you lah Nitijen :D 

Minggu, 17 Februari 2019

Memiliki Seorang Ibu
Untuk manusia, ibu adalah yang mendapatkan terluka pertama, tersenyum pertama dan menangis pertama. Memiliki seorang ibu berarti semua akan segera baik-baik saja #SHLO

Bagiku ini benar. Ibu (mungkin) adalah makhluk tercerewet dan bawel di rumah. Segala sesuatu akan dicek, diperhatikan, dipertanyakan, sekaligus dikhawatirkan. Terkadang telinga mendesit mendengar semua ocehan. tetapi justru kala sepi, ocehan itulah yang kita rindukan. Ibu dimanapun akan cenderung berperilaku yang sama. Sudah fitrah sebagai seorang perempuan. apalagi jika mendapatkan ibu yang semakin menua. sensitifitasnya makin bertambah. Semakin sering khawatir. Juga akan mudah menangis. 

Bersyukurlah masih memiliki ibu. Sebawel apapun ia, takkan pernah habis energinya untuk selalu mengkhawatirkanmu. Kala ada yang kau kisahkan, dialah yang akan tergugah pertama kali. Dialah yang marah, meraung, dan membelamu. Jika ada yang terjadi padamu, dialah yang resah pertama kali. dialah yang takut. bahkan dialah yang menangis. Kurang apa ibu yang telah susah payah merawat sejak kecil hingga dewasamu tetap saja peduli padamu. 

Bahagialah masih memiliki ibu. Itu berarti apapun yang terjadi, masih ada tempat untukmu datang bersandar dan memeluknya. Dialah malaikat dalam bentuk manusia yang diutus oleh Allah menemanimu di dunia. karena dengannya, dengan senyumnya, semua akan baik-baik saja. biiznillah...


Menuntaskan Rindu
Selasa, 12 Februari 2019. Hari ini tercatat sebagai hari kita bersama. Entah berapa tahun lagi kita bisa bersua seperti ini lagi. Dan mungkinkah momen seperti ini akan terulang lagi? 

Hidup terus saja bergulir. Waktu tak terasa melesat bak anak panah. Kita tak pernah bisa memastikan kapan dan dimana segala kenangan bisa kita cipta kembali. Karena selalu ada sibuk yang melerai jumpa. Ada waktu yang memisah temu. Dan ada jarak yang membentang rindu. 

Ada hal yang selalu kuingat dan kujadikan pelajaran. Kapan pun bisa menuntaskan rindu, tuntaskanlah. Karena tak ada diantara kita yang bisa menjamin ada waktu selanjutnya untuk menuntaskannya. bisa jadi waktu selanjutnya tidak akan pernah ada.

Pernah, kusimpan temu tuk kesempatan lain. Berharap waktu akan terus berpihak tuk menyisakan ruang. Namun, temu itu akhirnya tak pernah ada. Dan rindu itu tak pernah menderu. Ah, saya jadi rindu dengan kalian. Teman2ku yang oleh Allah diizinkan kenal, bertemu lalu berpisah. Dimana pun kalian, semoga Allah selalu menuntun kita tuk selalu saling merindukan. Bukankah indah ukhuwah karena ada rindu?. Dalam dekapan ukhuwah, kutitipkan pada-Nya rindu untuk kalian

Ah, jadi rindu wawa, cemmi,..... 

Eh, sampai lupa. "Barakallahu laka wabaraka 'alaika wajama'a bainakuma fii khair". Samawa sampai kakek nenek tomanG SD "Nanna dan Ewa" yang akhirnya berjodoh😊😊😊 

Latuppa, 12 Februari 2019
Luruh yang  Meluruh


Pada akhirnya segala luruh akan meluruh pada akhirnya. Dan setelahnya kita akan menerima bahwa hidup ini adalah puzzle dari aneka suasana. Jika kemarin mencak menjalari, hari ini bisa jadi sesak akan mengaliri. Atau bisa jadi gelak menyinari. Bukankah memang begitulah hidup?. 
"Without rain nothing grow. Learn to embrace the storms of your life"

Senin, 28 Januari 2019

Nikmati Lelahmu
Menyibukkan diri, bukan berarti harus melupa bahwa diri pun perlu sesekali dihadiahi. Tetapi hadiah terbaik saat ini memang adalah sibuk. Dengannya fikiran akan beresonansi menyeimbangkan setiap nada yang ada. Kadang fluktuasi itu menyentil ego tuk menaikkan volume suara, atau mungkin mengalirkan derai. Wajarlah, semua adalah ritme hidup

Ada mantra yang selalu ampuh tuk diucapkan:

ﻻ تغضب ولك الجنة

Sibuk adalah variabel nyaman bagi mereka yang lelah berdebat dengan alur pikiran diri. Bukankah memang kita diperintahkan untuk berlomba berlelah-lelah di dunia ini?. Kala satu urusan selesai, maka segeralah menuju urusan lainnya. Pemburu dunia? Iya, kalau materi atau jabatan, atau penghargaan yang dikejar. Tetapi lelah bukan hanya pada dimensi itu.

Apapun sibukmu. Seberapa besar lelahmu. Semoga semua karena Lillah. Dan semoga tidaklah sia-sia. Karena yang lebih merugi dari tak punya lelah adalah mereka yang capek berlelah-lelah tetapi tak mendapatkan apapun selain dahaga.

Dan (juga) semoga sibukku dan sibukmu dimudahkan oleh sang maha pemberi kekuatan.

اللَّهُمَّ لاَ سَهْلَ إِلاَّ مَا جَعَلْتَهُ سَهْلاً وَأَنْتَ تَجْعَلُ الحَزْنَ إِذَا شِئْتَ سَهْلاً

Ya Allah, tidak ada kemudahan kecuali yang Engkau buat mudah. Dan engkau menjadikan kesedihan (kesulitan), jika Engkau kehendaki pasti akan menjadi mudah.

Bukan kesulitan yang membuat kita takut, tapi ketakutan yang membuat kita sulit. Karena itu jangan pernah mencoba untuk menyerah dan jangan pernah menyerah untuk mencoba dalam amanah, keikhlasan dan kejujuran. Maka jangan katakan pada Allah aku punya masalah, tetapi. katakan pada masalah AKU PUNYA ALLAH Yang Maha Segalanya" ...Ali bin Abi Thalib. ra

Sabtu, 26 Januari 2019

Memilih Ketetapan
Tak ada satupun diantara kita bisa memilih dan memilah takdir hidup. Adakah yang bisa memilih akan lahir dari keluarga yang bagaimana? Adakah yang bjsa memilih lahir di tempat mana? Negara mana? Adapulakah mereka yang cacat secara fisik dan mental pernah meminta tuk dilahirkan seperti itu? Atau adakah yang bisa memilih lahir dengan fisik yang bagaimana?. Pengen mancung, pengen putih, pengen semampai, pengen keturunan bangsa apa, bahkan memilih jenis rambut yang bagaimana. Bisakah?

Sebagaimana semua ketetapan itu tak bisa dipilih dan dipilah, otomatis tiap kita punya kelebihan dan kekurangan masing-masing. Adakah yang sempurna?. Rasanya tak ada. Ingatlah, Ada ketetapan yang memang given, tak bisa dipilih. Namun ada ketetapan yang masih bisa diusahakan.

Jika kita mengaminkan bahwa tiap kita adalah bagian yang punya kekurangan, sama halnya dengan orang lain yang tidak bisa memilih dan memilah ketetapan dari hidupnya. Lalu kenapa?. Pahami bahwa kita adalah individu yang disempurnakan oleh kesyukuran dari ketidaksempurnaan yang dimiliki. Berhentilah mengolok apa yang jadi ketetapan hidup seseorang. Karena kita paham, tak ada yang pernah memilih dan memilah semua itu.

Jangan menjudge diri lebih sempurna. Karena bisa jadi ada kekurangan kita yang luput dari penglihatan kasat mata kita sendiri. Terkadang ketidaksempurnaan orang lain adalah bahan senyuman bagi kita tetapi sebenarnya jadi bahan derai bagi orang lain. Bahkan jika semua kita punya opsi pilihan dan pilahan, tentu ia akan memilih yang terbaik menurut standar dia, tetapi apakah sudah tentu menyenangkan semua penglihatan orang lain?. Belum tentu juga kan?. So what...?
"Be careful with your words, they can only forgiven not forgotten"
#notestoday #remember #refleksi #ilustrasi #words #smile