Katanya Terlalu Idealis - Dunia Yaya

Sabtu, 08 Oktober 2016

Katanya Terlalu Idealis

Mungkin ini efek dari PMS, atau mungkin memang keadaan yang membuat sosis eh, esmosis menaik. Rasanya sudah 3 hari, selalu marah-marah. Tapi kalau mau ditelisik, keadaan yang ada memang membuat naik pitam. Ada saja. Mulai dari santri, pekerjaan, dan juga salah tugas. Huffft.. tak perlu mengurai lebih detail. Kalau kemarin, yang membuat naik darah itu, karena salah tugas. Entah tugas itu menjadi tanggungjawabku atau bagaimana. Kenapa seolah tugas itu dilimpahkan padaku. Bukannya tak mau berperan penting, hanya saja, please cobalah lebih care juga. Care terhadap tanggungjawab sendiri. 


Nah, kalau hari ini masalah santri. Sudah esmosis dari kelas karena siswa yang tak pernah punya semangat belajar. nah, sepulang dari kelas menuju kantor untuk sejenak istirahat, langsung dipanggil rapat. ternyata untuk membahas kelanjutan dari permasalahan siswa tersebut. Pertama dipaparkan keadaan siswa dan keadaan ortunya. Kalau keadaan otu saya sama sekali nggak tahu. Tapi kalau dari segi siswanya, saya tahu persis. Mau cerita gimana dia? yang jelas, seolah hidup tak punya semangat. Pandai berkelit bagai belut, berwajah lugu, tapi menenggelamkan. seolah muka tanpa dosa, padahal bohong dan kalasinya selangit. Siapa sih nggak tahu? cuma, ternyata banyak yang lebih memilih cari aman. 

Dan saya yang mencoba memaparkan dia bagaimana, dan mengatakan kalau selama ini tak pernah mencari atau berusaha memperbaiki pelajarannya yang tertinggal, akhirnya dipersalahkan juga. Apakah harus saya yang mengejar siswa untuk memperbaiki nilainya, padahal si siswa sendiri seolah tidak peduli dengan dirinya dan pelajarannya? sebenarnya siapa yang harus mencari siapa? siapa yang harus disalahkan? okelah bahas psikologinya dari kerasnya orang tua. Sebagai seorang pendidik, mestinya lebih peka, mengayomi, dan lebih peduli sama siswa. Apakah selama ini tidak pernah diperhatikan, diayomi, dan dipedulikan? dan apakah dia juga punya keinginan untuk berubah? Yang ada, cuma berpindah dari bohong yang satu dengan bohong yang lainnya. Akhirnya, keluarlah kata yang rasanya seperti mengiris: Banyak guru yang sangat idealis, karena belum punya anak, belum rasa bagaimana punya anak. OMG, rasanya seperti saya yang tertohok dan tertampar. ckckck.... Katanya, tak perlulah terlalu idealis, kita harus jaga nama baik sekolah, yang sudah terlanjur dikenal baik, dan dicitrakan baik sama orang tua santri, Jangan sampai nantinya berubah. 

Hmm... ternyata ingin memperbaiki citra. Jadi guru memang sekarang serba salah. Idealis salah, tidak idealis, bagaimana nasib pendidikan, kalau semua hal dipermaklumkan? atau saya saja yang merasa tidak nyaman? entahlah #think

Tidak ada komentar:

Silahkan tinggalkan komentar