Bom Kampung Melayu - Dunia Yaya

Minggu, 28 Mei 2017

Bom Kampung Melayu

Tentang Penge-Bom-an di Kampung Melayu. Sebagai pengamat jauh, saya ingin mengatakan bahwa: Siapapun pelakunya... pikiranx belum terbuka. Entah ini pelakunya ummat islam atw bukan, tentu yang akan menanggung label terorism adalah ummat islam. Tapi, heyy.... yg korban itu siapa?. Jadi klw pelakux ummat islam, sama saja membunuh saudara sendiri dan otu juga akan menambah daftar panjang label terorism pd ummat ini (itu kalau jika loh ya). Mau balas dendam? Dendam pada siapa? Untuk apa? Kenapa disana pada saat pelaksanaan pawai obor?. ini sudah ide lawas. Tetapi ini masih absurd. Masih dalam himpunan fuzzy. Maka waspadalah mudah menjudge...

Tulisan dari Tere liye tentang ini: *Waspada*

Saat sebuah bom diledakkan di tengah keramaian kota Jakarta. Maka jelas sekali, 87% kemungkinan korbannya adalah muslim. Ijinkan saya bertanya pada pelaku pengeboman di Terminal Kampung Melayu Jakarta tadi malam. Tahukah Anda, boleh jadi di sana ada seorang Ayah yang habis membeli kurma, setelah kerja seharian, menyiapkan Ramadhan bagi anak-anak dan keluarganya. Tahukah Anda, boleh jadi di sana, ada seorang anak muda yang siap-siap ke bandara, naik pesawat menuju Medan, hendak bersimpuh di kaki Ibunya di hari pertama Ramadhan, setelah merantau setahun, bekerja di Jakarta.

Tahukah Anda, di Terminal Kampung Melayu itu, boleh jadi ada yang pulang dari pengajian, baru menangis dia mendengar kajian tentang cinta Rasul. Tahukah Anda boleh jadi ada yang sedang membaca kitab suci, duduk sambil menunggu bus. Bahkan saat sasaran Anda spesifik sekali adalah polisi, boleh jadi salah-satu polisi korbannya, baru saja menelepon anak bungsu tersayangnya, “Nak, sudah shalat Isya? Oh, sudah mau tidur. Jangan lupa doa sebelum tidur.” Lantas anaknya bilang, “Ayah, aku cinta Ayah karena Allah”. Percakapan ditutup, lima menit kemudian, bom meledak.

Tahukah Anda semua kemungkinan tersebut? Nah, terlepas dari kemungkinan2 tersebut, coba cek tiga nama polisi korban tadi malam yang bukan lagi kemungkinan2: Ridho Setiawan, Taufan Tsunami, Imam Gilang Adinata. Bukankah hei, nama2 itu akrab dan familiar sekali bagi Anda? Bukankah nama-nama itu juga nama2 tetangga, saudara2 kita, bahkan namanya mirip dengan nama Anda sendiri. Maka sebelum kalian meledakkan bom, sebelum melepas aksi di tengah keramaian, coba pikirkan hal ini baik-baik. Jika Anda (pelaku pengeboman ini) muslim, dan mengaku membela Islam dengan cara2 seperti ini, bayangkanlah situasi ini.

Sayangnya, orang-orang ini tidak akan berpikir sekomprehensif ini. Sekali sebuah kebencian menutupi kepala, maka yang ada balas, balas dan balas. Padahal, setiap kali kekerasan dilepaskan, hanya kebencian dan kekerasan berikutnya yang menyusul. Itu tidak pernah jadi solusi. Itu hanya membuat semua semakin rumit dan rumit. Kusutnya, orang2 ini memang meniatkan kerumitan ini. Saya tidak akan berpanjang lebar membahas soal paham-paham ini. Kita kadung berbeda frekuensi, penjelasan apapun tidak akan berguna.

Saya hanya akan membahas hal lain yang tidak kalah pentingnya.

1. Umat Islam selalu menjadi salah-satu korban paling serius setiap kali bom meledak. Bahkan ketika itu terjadi di Inggris, umat Islam seluruh dunia harus menanggung prasangka buruk, kebencian, bahkan tindakan yang tidak pantas di belahan benua lainnya.

2. Jangan pernah takut, apalagi sampai bernegosiasi dengan kekerasan. Tetap lakukan aktivitas seperti biasa. Tetap berangkat sekolah, bekerja seperti biasa. Tapi waspadalah. Tidak ada yang menjamin kapan, di mana, dan siapa sasaran bom ini.

3. Kenali tetangga-tetangga kita. Sudah saatnya kita tahu depan, samping, belakang rumah kita. Pelaku pengeboman ini akan sulit sekali bergerak jika kita semua mengetahui dan bersilaturahmi dengan baik terhadap tetangga. Sekali ada yang mencurigakan, ada tetangga yg tertutup sekali, laporkan kepada Ketua RT. Di samping rumah jelas2 lagi bikin bom, masa’ kita tidak tahu?

4. Jaga anak-anak kita, saudara2 kita, teman2 kita, dari paham yang ekstrem. Ayolah, apa susahnya memperhatikan keluarga sendiri. Ini juga hal sederhana tapi sangat efektif mencegah kejadian berikutnya. Sekali anak-anak kita, saudara2 kita, teman2 kita mendadak punya paham yang ekstrem sekali (misalnya postingan di medsosnya mendadak begitu), atau mendadak jadi pendiam, menutup diri, coba tanya2, ajak bicara, minimal tanya apa kabarnya. Proses menjadi pelaku bom bunuh diri itu tidak terjadi semalam. Jika kita peduli dengan orang terdekat, kita mungkin bisa mencegahnya.

5. Dan terakhir, termasuk diri kita sendiri. Mulailah membaca banyak buku2 agama. Hadiri banyak pengajian. Tidak harus satu penulis, satu ustad, tapi terbuka dengan buku2 lain, ustad2 lain. Itu akan membuat cara berpikir kita komprehensif, terbuka. Kalau memang waktunya tidak punya, sekarang di media sosial banyak streaming2 pengajian. Selalu kritis, bertanya. Bukan hanya ditelan mentah2. Agama itu untuk orang yang mau berpikir.

Dua hari lagi umat Muslim akan melaksanakan Ramadhan. Kalian tidak akan pernah bisa merusak kebahagiaan kami menyambut Ramadhan, cuy. Apapun tujuan kalian, apapun misi kalian meledakkan bom sebelum bulan suci, 230 juta (dari 260 juta) penduduk Indonesia yang muslim akan menyambut Ramadhan dengan suka cita, dengan kasih sayang. Bukan dengan Bom.

*Tere Liye

Tidak ada komentar:

Silahkan tinggalkan komentar