Bahagia yang Sederhana - Dunia Yaya

Rabu, 26 Juli 2017

Bahagia yang Sederhana

Allah memberi memberi takdir bukan tanpa sebab. Yakinlah ada sesuatu yang harus kita terima. Harus kita jalani. Harus kita temui. Harus kita rasakan. Makanya sebuah takdir diperuntukkan untuk kita. Mungkin ada rasa kesal mengapa diberikan untuk kita. Mungkin ada rasa sedih harus menjalaninya. Tetapi sekali lagi, Allah lebih tahu jalan terbaik.

(Mungkin) begitu pula kali ini. Sejak dulu jalan ini selalu ditolak oleh akalku. Ditepis oleh perasaanku. Dan dimentahkan oleh harapanku. Saya selalu menolaknya. Berpikir sampai kesini pun rasanya ingin menghilang saja. Tetapi setiap kali kuhindari, setiap kali itu pula taqdir itu justru semakin mendekat. Dekat.. dekat.. dan dekat. Hingga akhirnya benar2 takdir itu kujalani. Pasrah!. Itu kata yang kulontarkan pada awalnya dan jangan ditanya bagaimna perasaanku. Rasanya ingin menghilang saja.. saya tak menerimanya. Saya menolaknya. Saya membencinya. Seiring waktu, saya lupa dengan kebencianku. Lupa dengan amarahku. Lupa dengan angan-anganku. Benarlah bahwa "waktu selalu setia menunggu kita menghapus sebuah luka". Dan "waktu selalu bisa mengurai jejak sejarah menjadi hanya sekilas bayangan". Begitulah.. akhirnya saya lupa.

Ada pepatah juga mengatakan bahwa, obat paling mujarab untuk menyembuhkan sesuatu adalah dengan menemukan penggantinya. Disini pengganti bukan berarti harus sama persis dgn yang diganti. Tetapi bisa saja dengan hal lain, rasa lain yang mengganti posisinya. Jika bersedih karena peliknya masalah hidup, maka gantilah rasa sedih itu dengan traveling misalnya. Jika ruwet dengan perselisihan dalam hidup, maka subtitusi rasa itu dengan menemukan tempat cerita. Ada banyak cara mensubtitusi sebuah rasa yang ingin dihilangkan. 

Seperti itulah kali ini. Ada takdir yang selalu kucoba kutolak namun tetap saja datang dan akhirnya kujalani. Sekarang rasanya saya tanpa sadar telah menjalani takdir itu tanpa embel-embel rasa sebelumnya. Entah kenapa. Dan entah bagaimana. Waktu benar telah membuatnya biasa. Dan mungkin penyebab lain yang telah menempati semua rasa itu. Apakah itu?. Sebuah bahagia yang sederhana. 

Bahagiaku adalah sederhana. Sesederhana saya mendapatkannya. Hanya dengan melihat wajah2 di depanku yang polos dan aku mnyunggingkan senyum, aku telah bahagia. Dengan menjelaskan satu hal dan mereka yang ada di depanku mengangguk dengan senyum, akupun bahagia. Dengan datang dan disambut dengan sapaan kecil dibatengi candaan khas mereka yang kadang jahil, akupun bahagia. Dengan mereka datang dengan tergesa2 hanya tak ingin terlambay hadir, aku bahagia. Dengan melihat mereka yang ketika waktu shalat beriringan menuju mesjid, aku sangat bahagia. Dan dengan sebuah cinta sederhana, cinta yang menghampiri dengan alasan sederhana, tumbuh dengan sederhana, dan bertahan dengan sederhana, aku bisa mensubtitusi aneka rasa sebelumnya. Tak lagi kupikir ingin pergi. Tak lagi kubayangkan tentang impian. Tak lagi kupeduli tentang "saya... sedang mereka...". Yang kurasakan adalah cinta sederhana. Cinta yang membuatku bahagia dengan sederhana pula. Rasa yang membuatku amnesia dengan takdir yang pernah kucoba untuk kulempar jauh. 

Allah.... aku yakin, jalan yang Kau pilihkan untukku adalah jalan yang memang harus kulewati. Ada pelajaran yang harus kulalui pintaku, tetapkan hatiku selalu mencintai apapun jalan yang Kau pilihkan untukku. Aku ridho dengan apapun jalan untukku... syukran ya Rabb... maafkan aku ya Rabb...

Palopo, 260717

1 komentar:

Silahkan tinggalkan komentar