Teman, Saya hanya butuh sapaanmu - Dunia Yaya

Sabtu, 22 Juli 2017

Teman, Saya hanya butuh sapaanmu

Pagi itu hujan deras lumayan mengguyur kota kecil tempat kelahiranku. Karena lagi bulan ramadhan, godaan untuk tidur kembali setelah shalat subuh begitu kuat. Dan hari itu, saya pun termakan rayuan. Alhasil saya terbangun menjelang jam 7. Dan tahu tidak, hari itu saya harus ke kampus mengawas Ujian Masuk Maba. Meski infonya sangat mendadak, semalam baru menyampaikan, tetapi saya harus pergi pikirku. Mana tidak begitu tahu lagi tempatnya. Maklum, dosen baru. Melihat jarum jam yang menunjukkan begitu, kocar-kacir akhirnya. Mana baju belum distrika. Mana belum mandi. Mana hujan pula. Komplit!. Sempat berpikir untuk tidak pergi. Ahh.. paling juga ada yang menggantikan. Saya pun melayangkan sms ke ibu wadek, gimana nih bu, penyampaiannya terlambat, khawatir saya terlambat datang, katanya datang jam 7.30, kayaknya ini sudah telat. Tetapi ibu wadek lambat balasnya, jadi nanya ke kakak, gimana bagusnya. Katanya: pergi saja, melapor kalau terlambat. Hmm.. berarti saya harus tetap pergi. Oke fix…. Jadilah pagi yang rempong.

Tiba di kampus, sudah ramai para calon mahasiswa berdatangan. Macet sudah pasti. Motor bertebaran. Dan sedang saya datang dengan pete-pete. Beginilah nasib kalau tak tahu bawa motor dan tak punya mobil. (mungkin inilah yang disebut dosen kere wkwkwkwkwk… dosen juga manusia). Saya pun melangkah dengan tergesa memasuki kampus. Jujur, ini pertama kalinya masuk ke gedung ini. Selama ini hanya datang ke kampus yang diajar, bukan disini. Berjalan sambil mikir, dibagian mana ya?. Tadi petunjuk kakakku kalau tempatnya di lantai 2. Tapi kok kayakx yang lantai satu rame bapak-bapak dan ibu-ibu keluar masuk. Penampakannya sih penampakan dosen. Kesana aja deh, pikirku. Masuk celingak-celinguk, dan benar saja, ada banyak orang disini. Ahaa.. ada tempat duduk kosong. Saya pun duduk dengan sukses sambil mengatur nafas yang tersengal akibat buru-buru tadi. Dan, trik jitu pun kulayangkan. Duduk sambil memperhatikan sekitar, maybe ada yang bisa ditanya nih. Di depan kursi yang kududuki, ada seorang bapak yang memegang lembar mirip absen. Trus ada ID card di depannya. Tak lama ada seorang bapak yang menghampirinya dan berkata: saya di ruangan mana bos?. Wahh… berarti saya mesti nanya tuh bapak kayaknya. Saya pun akhirnya bertanya paa bapak yang duduk tersebut.

“pak, kalau mau melihat tempat ngawas dimana pak?
“ohh, mau mengawaskah?, lantai berapa, ruangan mana?
“tidak tahu pak, saya juga baru dapat infonya kalau mengawas”
“ohh.. tunggu saja, di dalam lagi breefing untuk teknis kepengawasan”
“oh, iya pak. Makasih”

Saya pun lagsung duduk kembali ke kursi. Namun, kali ini langsung mengarahkan pandangan ke ruangan yang dimaksud tadi. Penuh, bahkan banyak yang berdiri. Saat ingin kukembalikan pandanganku, kulihat sosok yang tak asing bagiku. Tentu, saya pun senang bukan kepalang sambil memanggilnya dengan setengah teriak. Mungkin sambil senangnya. (saya menyamarkan namanya aja ya, demi kemaslahatan ummat hehehe….). 

“hey.. maya, lama tak jumpa, ternyata ketemunya disini”
Dia pun senyum sedikit. Datar
“lamanya ki baru ketemu di?”
Senyum datar. Sambil tetap saja focus menggendong anaknya.
“ihh, besarmi di (sambil mempermainkan tangan anaknya). Sejak lahir, baru sekarang kulihat”
“iyya:. Datar
“enaknya tidur. Deh.. besarmi”
Senyum datar.

Bla..bla..bla…… semua tetap datar….. hingga terdengar dari dalam ruangan namaku disebut. Ternyata lagi absen pengawas. Dengan terburu-buru saya pun masuk ruangan, sambil pamer senyum. 

“ohh.. ini dia. Mengawaski di ruangan 202 nah. Samaki ibu …. “
“iya pak”
“tanda tangan dulu bu nah, dan ini id card ta”
“iya bu”.

Dan para bapak dan ibu semua pada bergegas menuju ruangan masing masing. Saya yang paling baru juga Cuma mengikuti arus langkah-langkah mereka. Dan tentu keluar ruangan, saya tetap melewati teman saya yang tadi. Dan lagi-lagi tak ada ekspresi. Datar. Ngenesss!!!

Apa yang kemudian terlintas dipikiranku?. Kok bisa dia tidak kenal saya ya? Masa iyya tidak kenal?. Bukannya selama ini berteman di sosmed, meski emang lama tak bertemu, tetapi paling tidak wajah terbaruku masih terpampang di profil sosmed. Dan masa iyya dia lupa? Masa iyya tidak kenal? Masa iyya ekspresinya begitu? Benarkah tidak kenal? Kok rasanya saya tadi malu ya? Dilihatin orang heboh sendiri, sedang yang diajak ngomong datar saja. Rasanya tadi saya ngomong sendiri. Rasanya tadi seolah saya yang sok kenal. Kalau misal lupa dengan saya, kan dia bisa bertanya: siapa ya? Atau apa kek. Atau saat tadi namaku disebut, paling tidak dia langsung ingatlah. Dan bisa menyapaku ketika lewat lagi. Apa iyya benar-benar tidak kenal?. Saya, meski lama tidak berjumpa, tetapi teman yang pernah akrab pasti masih akan diingat. Dan kalau ketemu, tidak sungkan-sungkan untuk menyapa, dan mungkin kayak tadi, setengah teriak, saking senangnya. Kok, cuma saya yang heboh sendiri tadi ya?. Berbagai pertanyaan yang berkelebat di benakku tetap saja mampir selama ujian yang kurang lebih 3 jam. Dan sempat saat mengawas, saya menyempatkan diri ke pintu ruangan, dan si dia lagi asik berjalan bersama anaknya sambil celinguk ke ruangan-ruangan. Kalau saya jadi dia, sudah kusapa temanku, atau apalah. Ini, datar. Namun kemudian baru ngeh, ohhh.. iyya, dia kan sekarang jadi ibu kaprodi. Sedangkan saya?. Meski ini terdengar sarkastis, tetapi mau tidak mau pikiran itu muncul dalam keadaan begini. Ahhh… sudahlah. Terima saja yaya… :D

Beberapa hari setelahnya, saya pun chat dengan sahabat SMA yang juga kenal baik dengan dia. Chat via fb pun diawali dengan masalah jodoh. Yah, lagi-lagi tema ngenes bagi jomblo kayak saya hahaha. Tak apalah, mau gimana lagi, selagi belum nikah pasti pertanyaan begitu akan sering hadir hehe… tak lama saya pun curhat dengannya dengan kejadian dengan ibu kaprodi. Saya dan temanku ini lumayan akrab dengan dia. Yang kutahu, dia adalah sosok yang baik, ramah, kalem, cerdas dan punya senyum khas. Setelah kuceritakan, apa yang dibilang sama temanku itu?

“Menurut beberapa teman, katanya maya memang begitu. Ekspresinya berubah-ubah. Kadang baik sekali, mudah menyapa, kadang juga datar sekali dan cuek. Tergantung dari sikonnya. Kalau di kampus, memang dia begitu. Secara dia orang penting di kampus. Orang terhormat. Jadi biasanya dia datar dan cuek. Mungkin istilah tepatnya adalah jaim. Apalagi kalau teriakki panggilki. Nassami dia akan cuek. Secara dia orang penting”
“Waduh… begitukah?. Iyya sih di kampus. Tetapi apa harus pilah-pilah tempat kalau dengan teman? Apalagi kalau baru ketemu setelah sekian lama. Apalagi kalau dulunya akrab. Kalau saya sih, meski itu di kampus, atau diamana, lagi dengan siapa, paling tidak tidak secuek itu dengan teman. Paling tidak berbasa-basi atau apalah”
“iyya, itu kalau kamu yaya. Tiap orang kan beda. Apalagi kalau di kampus, dia adalah orang terhormat, jadi harusnya kamu jaga sikap di depannya”
“hmmm… begitukah?. Kalau saya ndak segitunya ji kali. Teman inie”
“hahahaha….. samajiki yaya. Saya juga kalau ketemu teman, ndak kuperhatikan saya siapa dan dimana, tentu akan senang dan mungkin ndak sadar teriak. “
“baaah, iyya, saya juga begitu”
“kalau saya begitu yaya kalau ketemuki, katto kepalaku, supaya cepatka sadar hahahha…”
“jahatta kalau begituki juga sama saya”
“iyya jahatka memang kalau begitu, maknya katto kepalaku supaya sadarka”
“bukan lagi dikatto kepala ta, tetapi bagus disiramki air, supaya cepatki sadar hahahha…”
“iyya nah yaya…”

Ahhh, begitu ya? Apa benar karena itu?. Entahlah. Wallahu ‘alam bisshawab. Hanya dia dan Allah yang tahu alasan sebenarnya. Saya akan tetap berusaha berpositif thinking, meski pikiran parno tetap saja hadir. Teman…. Saya hanya butuh sapaan balikmu :-)

Tidak ada komentar:

Silahkan tinggalkan komentar