Trauma - Dunia Yaya

Senin, 09 Oktober 2017

Trauma

Ada trauma baru dalam hidupku. Trauma ini dimulai sekitar 3 pekan yang lalu. Subuh itu sekitar pukul 4, seperti biasa saya selalu terbangun. Ada rutinitas sekitar 3 bulan setiap subuh. Bangun dan membangunkan. Dengan melihat jam di HP yang masih menunjukkan pukul 4 lewat beberapa menit, kuurungkan bangkit dari tempat tidur, juga kuurungkan membangunkan. Ping dan wa call. Di luar kamar terdengar suara langkah menuju dapur dan menyalakan kompor. Bisa kutebak siapa dia. Dia adukku yang selalu begadang setiap malam apalagi setelah rumah kecurian beberapa bulan yang lalu. Mungkin dia baru hendak tidur. Mungkin dia menyalakan obat nyamuk. 

Selang beberapa lama, indera penciumanku merasakan bau yang aneh. Sepertinya ada yang menyengat. Makin lama makin terasa. Tetapi sempat masih muncul rasa enggan. Ahh.. mungkin hanya bau obat nyamuk atau kertas tempat obat nyamuk. Tetapi karena merasa ada yang aneh, saya pun menrahkan pandangan ke langit-langit atap dapur. Langsung mataku yang masih merayu tidur akhirnya terbelalak dan berlari ke dapur. Dari balik langit atap dapur sudah berwarna kemerahan. Benar saja, di atas kompor api telah menyala sangat besar membakar wajan beserta sendok penggorengnya. Dengan panic kuhampiri dan berniat mematikan kompor tetapi justru kompor tidak mau diputar, sedang api sudah menyala begitu besar. Kalau saja bukan dinding tembok, mungkin nyala api sudah merembes kemana-mana. Karena mendengar saya rebut dan panic, ibu pun terbangun dan juga panic. Dengan tubuh yang gemetaran semua saya pun berlari ke kamar adikku menggedor keras pintunya dan menyuruhnya bangun. Dengan sangat kaget juga dia terbangun. Keributan pun terjadi karena nyala api makin besar. Untung saja kk dan iparku terbangun, berlari kedapur lalu berusaha mematikan kompor, mengangkat wajan, dan melepas tabung. Yang sangat berbahaya kalau api telah menjalar ke tabung gas. Saya sebagai orang yang menemukan kejadian pertama kali hanya bisa berdiri terbungkam melihat semua orang berusaha memadamkan api dengan lutut yang sangat gemetaran. Untunglah… Allah masih menyayangi kami dan si jago merah tidak menghancurkan rumah kami. 

Entah berapa lama saya terdiam, terduduk dan gemetaran. Hingga lupa bahwa mentari semakin mengintip dan saya belum juga shalat subuh. 

Setelah kejadian itu, setiap malam, tidurku tidak nyaman. Kalau tengah malam sampai subuh entah berapa kali terbangun. Mengecek kompor gas. Mengecek dapur. Mengecek obat nyamuk. Apalagi setiap mendengar bunyi kompor dinyalakan, saya akan terbangun. Berapa kali pun orang menyalakan kompor, sebanyak itu juga saya terbangun, dengan was-was, gemetaran dan panic. Tidur pun jadi tidak nyaman. Bukan hanya sampai disitu. Meski siang pun, jika kompor dinyalakan panic masih juga muncul. Langsung mengecek dapur dan kompor. Bahkan imbasnya lebih parah, mendengar suara api dari pembakaran pun lutut langsung gemetaran dan lemas. 

Inikah disebut trauma…?

Tidak ada komentar:

Silahkan tinggalkan komentar