Apa Sesungguhnya yang Kita Cari - Dunia Yaya

Minggu, 10 Desember 2017

Apa Sesungguhnya yang Kita Cari

Sebenarnya apa yang kita cari di dunia ini?. Setiap keadaan yang kita miliki, dikeluhkan. Setiap sesuatu yang dipunyai dirasa kurang. Saat bepergian ke laut, kita merindukan gunung. Saat berada di gunung malah ingin melihat laut. Saat hujan terus turun mengguyur bumi, berkata kapankah kemarau akan datang. namun saat kemarau melanda, berkata kapankah bumi ini basah oleh hujan. Berada di rumah, kita ingin pergi, setelah pergi ingin kembali ke rumah. Waktu tenang ingin mencari suasana ramai, namun waktu ramai ingin mencari ketenangan. Saat belum memiliki kerja, meminta agar segera diberikan pekerjaan. Ketika telah bekerja, kembali mengeluhkan gaji yang belum cukup. Saat gaji semakin bertambah, kembali menginginkan jabatan yang tinggi. Saat masih sendiri, berkata kapan bisa menikah. Saat sudah berkeluarga, mengeluhkan kapan mempunyai anak. Saat punya anak, mengeluhkan biaya hidup dan pendidikan. Lalu kapan kita akan berhenti mengeluhkan kehidupan?. 

Seorang anak usia 2 tahun sedang bermain balon. Dengan wajah yang penuh bahagia melihat balon di tangannya. Sayangnya, seorang anak yang hampir seusia dengannya menghampiri hendak merebut balon tersebut. Tarik-tarikan pun terjadi. Suara tangisan pun mulai pecah. Yang satu kekeuh mempertahankan balon yang ada padanya, yang satu pun kekeuh ingin merebut balon. Balon cuma satu, namun yang akan memiliki ada 2, perjuangan hendak memiliki dan memperjuangkan terus saja terjadi. Hingga orang tua dari anak yang memiliki balon membujuk anaknya agar mau merelakan balon yang dimilikinya kepada orang lain. Apakah si anak langsung merelakan? tidak. Dia masih saja mempertahankan balon ditangannya masih dengan isakan. Sedang anak yang satunya makin menangis meraung seolah sakit hati tidak mendapatkan apa yang diinginkannya. seiring bujukan dari orang tuanya yang disertai dengan imingan akan diberikan balon yang lebih banyak dan lebih baik, serta nasehat untuk bisa memberi dan mengalah, si anak pemilik balon pun melepaskan balonnya dan memberikan kepada anak satunya. Beberapa menit berlalu, yang terjadi adalah hening. Anak yang telah memberikan balonnya diam menatap anak lainnya bermain balon. sedang anak yang telah menerima balon asyik sendiri bermain balon, suara cerianya yang menggema lambat laun pun menghilang dan sepi. semua jadi biasa-biasa saja. 

Ternyata sesuatu itu tampak indah saat kita belum memilikinya. Namun saat kita telah memilikinya, yang tampak indah berubah menjadi hal yang biasa saja. tak lagi seindah pandangan yang dulu. Mengapa? karena sudah dimiliki, karena sudah dipunyai, karena sudah diketahui, karena sudah didapatkan?. Kebahagiaan tidak akan didapatkan kalau kita hanya selalu memikirkan apa yang belum ada, tetapi mengabaikan apa yang sudah kita miliki. Karena sejatinya apa yang belum kita ada hanya tampak indah saat belum dimiliki. Jadilah pribadi yang pandai bersyukur dengan rahmat dan nikmat yang sudah kita miliki. syukuri apa yang sudah kita miliki, sebagai modal bagi kebahagiaan kita. Bukankah kebahagiaan bukan diukur dari banyaknya yang kita miliki? juga bukan dari lebih bagusnya yang kita miliki. Karena hidup ini adalah waktu yang dipinjamkan dan harta adalah amanah yang dipercayakan, yang nantinya semua itu akan dimintai pertanggungjawaban. sebagaimana pinjaman, tentu saja suatu saat akan diambil oleh pemiliknya. begitu pula hidup yang kita miliki, kelak akan diambil kembali, senyaman apapun hidup yang telah kita rasakan. Pun sama dengan harta yang dimiliki, ia bukanlah milik kita. ia hanyalah amanah yang diberikan kepada kita. sebagaimana amanah, maka harus benar-benar bisa dipercaya menjaganya, tidak mendapatkannya dengan cara yang bathil, juga tidak mengeluarkannya melalui cara yang bathil. Amanah adalah kepercayaan dari Allah, maka janganlah khianat. 
Bersyukurlah atas nafas yang masih kita miliki. bersyukurlah atas keluarga yang kita miliki. bersyukurlah atas pekerjaan yang kita miliki. Bersyukurlah atas harta yang kita miliki. bersyukur dan selalu bersyukur atas apapun yang kita miliki dalam segala hal. Bukankah Allah Subhanahu wa ta'ala berfirman dalam surah Ibrahim ayat 7:

وَإِذْ تَأَذَّنَ رَبُّكُمْ لَئِن شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ ۖ وَلَئِن كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِى لَشَدِيدٌ

"Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan; "Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih".

1 komentar:

  1. "Ternyata sesuatu itu tampak indah saat kita belum memilikinya"

    BalasHapus

Silahkan tinggalkan komentar