Filosofi "Barongko" - Dunia Yaya

Senin, 05 Februari 2018

Filosofi "Barongko"

Katanya, kue khas asal Sulawesi Selatan ini, bukan hanya sekedar enak saja, tetapi memiliki filosofi dibalik kekhasannya sebagai kue. Dahulu, kue ini menjadi hidangan untuk raja-raja, dan juga hidangan saat adanya pesta. Orang Sulsel, tentu tahulah kue ini. Bahan utamanya adalah pisang, dicampur dengan gula, santan, dan susu. kemudian dibungkus kembali dengan Daun dari tanaman yang sama dengan bahan dasarnya yaitu daun pisang. Dan kue ini akan enak jika memnag menggunakan daun pisang, ada wangi tersendirinya. Karena itulah, pada dasarnya ada filosofi di baliknya.

Kita tahu bahwa kue Burongko bahan dasarnya adalah buah pisang yang masak, Jika orang baru melihat kue ini, tentu akan bertanya-tanya apa isinya?. Ternyata isinya sudah digambarkan melalui bungkusnya. Lalu saat mencicipi rasanya, wangi dari daun pisang berpadu dengan bahan-bahannya akan membuat cita rasa yang enak dan bisa menggoyang lidah. Tak jarang orang akan langsung mengagumi keenakan makanan ini. Masya Allah, enak banget. maka pesan moral dari filosofi kue ini digambarakan dalam kata-kata:
Say what you feel. Do what you say. feel what you do.
Katakan apa yang kamu rasakan. Lakukan apa yang kamu katakan. Rasakan apa yang kamu lakukan.
Ini mengajarkan untuk tidak munafik melakukan, merasakan, dan mengatakan sesuatu. Katakan saja apa yang dirasakan, jangan disembunyikan, apalagi membuat forum cerita belakang. Dari yang dikatakan itu, lakukanlah. Jangan sibuk berkata-kata sampai melumer sana-sini, namun sayangnya hanya sebatas retorika aatau pencitraan. Sekedar mencari muka. Padahal diri sendiri tidak melakukannya. Kemudian dari apa yang dilakukan tersebut, buatlah citarasa yang enak. Hadirkanlah rasa. Akan terasa hambar sebuah perbuatan, tanpa diiringi dengan perasaan dan pemahaman. Bukankah memang karena tanpa pemahaman, sebuah pengetahuan hanya sebatas hafalan?. Dan juga karena itulah banyak orang yang tahu tetapi tidak melakukan apa yang diketahui. Tahu tentang kebaikan, tetapi karena tidak dipahami, akhirnya hanya sebatas tahu, tidak jatuh dalam paham. Itulah kenapa feelnya hilang. 

Sebenarnya tentang ini, Allah telah melukiskannya sejak ribuan tahun lalu dalam Al-Qur'an Surah As-Shaff ayat 2 - 3:

يـاَيـُّهَا الَّذَيـْنَ امَنُوْا لِمَ تَـقُوْلُـوْنَ مَا لاَ تَـفْعَلُـوْنَ. كَـبُرَ مَقْتـًا عِنْدَ اللهِ اَنْ تَـقُوْلُـوْا مَا لاَ تَـفْعَلُـوْنَ. الصف:2-3

Hai orang-orang yang beriman, mengapa kamu mengatakan apa yang tidak kamu perbuat ? Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tiada kamu kerjakan. [Ash-Shaff : 2 – 3]

Tidak ada komentar:

Silahkan tinggalkan komentar