Gerimis - Dunia Yaya

Minggu, 04 Februari 2018

Gerimis

Entahlah kenapa gerimis menyapa sore ini. Meski siangnya hujan deras mengguyur bumi, namun yang tersisa hanya genangan. tak ada kenangan. Mungkin karena sibuk berdialektika dengan kesibukan. Saat duduk di tempat itu, gerimis pun mengundang. Agak risih sih, mungkin ada yang sempat lihat kalau gerimis menghiasi dan sebentar lagi guyuran hujan akan membasahi. Sebenarnya ada apa? Kenapa lagi?.

Rasa lelah yang mendera hari ini. Sebaiknya saya tidak mengeluhkan ini. Harusnya saya bekerja saja sesuai dengan apa yang harusnya dilakukan. namun sebagai manusia, ada titik dimana tubuh pun menjerit butuh dimengerti. Karena terkadang makan sudah dikesampingkan, bahkan minum terlupakan, istirahat dibuang, dan tubuh benar-benar dipaksa beraktivitas di luar kebiasaannya. Saya mesti mengeluh pada siapa? Mesti meminta tolong pada siapa? mesti minta bantuan pada siapa?. Tidak mungkin kan menyuruh pimpinan untuk melakukan kerja-kerja itu?. Meski secara tanggung jawab harusnya saya tidak sendiri memikul semuanya. Maka lebih baik melakukan semuanya saja. benar-benar memaksa fisik yang lemah ini beraktivitas. Tetapi akibatnya bisa ditebak. Maag jadi kambuh, kepala selalu pening, mual karena lelah, dan demam acap kali lelah benar-benar mendera. Namun, semua harus dilawan. akibatnya apa? dengan fisik yang lelah, perut yang bernyanyi, ditambah "mereka" yang sementara ujian greget melihatnya. jadilah sering marah-marah akhir-akhir ini.

Marah menguras energi perasaan. Betapa tidak marah, ada-ada saja kelakuan "mereka" yang memancing kelelahan jiwa. Datang terlambat. Kartu ujian yang selalu dilupa dan tercecer. Nama yang selalu tidak terinput di berita acara. peserta yang kadang over dosis. Ditambah dengan kehadiran para senior nyentrik, yang omongan banyak, raja ngeles, tapi otak dan etika jebol. Belum lagi nilai kejujuran yang seolah intan permata yang sulit sekali ditemukan. Bahkan yang membuat kesell pooolll itu saat di depan mata tidak tanggung nyontek, buka hp, atau bahkan kalasi tingkat dewa seperti hari ini. ada 2 kali saya merobek kertas ujian. pertama, saat ada yang minta ujian susulan. karena nggak mungkin saya bisa menjaganya di tempat lain sedang instruksi sola harus closed book, jadilah dia kusuruh ujian di dekatku. tahu apa yang terjadi?. Belum juga menulis apa-apa, sudah minta ttd berita acara. whatttss???. Tentu saja saya tidak beri. Selang beberapa menit duduknya sudah tidak tenang, dengan gaya nyontek yang sudah jadul, mau membuka hp dari bawah mejanya. heiii... itu cara nyontek zaman nenek moyang tahu... :D. Saya pun menegurnya. tapi akal busuknya tidak hilang juga. Entah ada seseorang dari luar hilir mudik, kayaknya temannya dia. dan si dia ini gelisah dengan sebuah benda di bawah kakinya. saya sih tidk mau langsung bertanya sebelum adda bukti nyata. Ehh.. lihat saya sibuk rekap kehadiran, dia menunduk mengambil sesuatu. dann... tiba-tiba, kertas yang bbarusan bersih tanpa tulisan langsung penuh coretan tulisan. full jawaban. wahh.. hebat banget, cuma nunduk aja kertasnya langsung terisi wkwkkw... dia pikir saya ini bodoh kali ya?. langsung saja kutanyakan apa yang di depannya yang sengaja dia tutup dengan kertas soalnya (ngapain juga nutup jawabannya kalau emang ada. jadi temannya aja sama ujian, nyontek sama dia ogahhh.... :D ). Karena dia tak bisa mengelak, kertas jawabannya kuambil dan kurobek. Emangnya saya bodoh apa, nggak tahu kalau kertas itu kertas lain yang sudah dijawasebelumnya, dan saya curiga dikerjakan sama temannya yang di luar tadi, dan dioper ke dalam, sayangnya saya sibuk merekap, tapi ekor mataku selalu jeli. itu mustahil kali kertas jawaban mendadak full begitu :D :D :D.

Semenjak disibukkan dengan kegiatan Ujian semester kampus, rasa-rasanya saya menjadi orang yang lalai. Ibadah wajib ssering terlambat dan keteteran,sedang lainnya jadi terlupakan. Ahh... Benarlah penjelasan ust. Adi Hidayat, Lc bahwa salah satu jenis setan yang perlu diwaspadai adalah setan pekerjaan. Karena sangat banyak manusia yang tiap harinya asyik disibukkan dengan pekerjaa, deadline dan lebih mengejar target acungan jempol atasan. lalu lupa bahwa diatas atasan yang dia sanjung, ada atasan yang harusnya lebih diperhatikan. Yaa rabb, maagkan hamba yang menjadi lalai. Bahkan siang tadi saat sholat dzuhur keteteran, rasanya sesak. Ada yang hilang, mungkin rasa dekat dengan Allah yang berkurang. Betapa tidak, sholat saja dilakukan serba terburu-buru. Ya Rabb, ampuni hamba. Sadarkan hamba jika lalai dan terlalaikan.

Ingat bapak. Mengapa jadi ingat beliau?. Dengan saya yang seperti ini, keras dalam nilai yang kuyakini dan kupertahankan. Atau dalam bahasa sehari-harinya saya nampak jadi sosok idealis dalam hal pekerjaan. Misal dalam kepengawasan, saya benar-benar tidak suka ketidakjujuran. Tidak suka cara curang. dan tetap keras pada setiap apapun yang kupegang, meski di depanku ada orang yang dekat atau dekat dengan keluarga. Melihat diriku yang seperti itu, rasanya saya bercermin pada ayahku. Bukankah beliau juga seperti itu?. Jika ada nilai yang dianggap benar, tunggu saja nilai itu akan dipertahankan keras. Dan juga keras pada ketidakjujuran. Bilang A, ya A. Bilang E, ya E. kekeuh banget. Ada salah seorang teman dosen di kampus yang dulu adalah muridnya beliau, pernah bercerita tentang bagaimana keras dan tegasnya ayahku. Tak peduli dengan omongan orang, jika itu adalah sesuat yang dia anggap benar, dia akan mempertahankan. Tak jarang dia banyak dibenci oleh siswanya, karena memang dia sangat objektif dalam menilai. Siapapun dia. Mendengar cerita itu saja saya berkaca-kaca mengenang ayahku. Dan kalasore ini, dengan segala permasalahan kepengawasan dll yang kutemui, rasanya saya ingin berkata: inilah yang diwariskan ayahku kepadaku. Ayah.. saya rindu :'(

Entah telah berapa hari. Dan entah apakah mesti dihitung?. Atau entah apakah masih layak dipikirkan?. Iya, saya sudah berjanji pada diriku untuk bersabar dan ikhlas menerima. Satu hal yang kuyakini hingga kini, bahwa aqidah-ku yang kupertaruhkan disini. Jika saya percaya rububiyahnya Allah, maka saya mesti tidak merasa khawatir akan apapun. Allah-lah tempat meminta, tempat memohon, tempat berkeluh kesah, tempat bercerita, tempat mengadu, tempat meminta. Saya yakin, Allah melihat, mendengar, mengetahui, merasakan, dan adil atas segala perkara di dunia ini. Mengapa harus khawatir dan sedih?. Ada Allah kok yang akan menyelesaikan setiap perkara, dan ada Allah yang akan membalas setiap perkara. Tak perlu khawatir jika saat ini sedih dan terpuruk sendiri, sedang di beberapa kilo sana ada yang tertawa dan bahagia, bahkan tidak merasa bersalah sedikitpun dengan yang dia lakukan. Tenang... ada Allah yang mendengar keluhmu, do'amu, dan pintamu. Ada Allah yang melihat dan mengetahui kebenaran yang hakiki, meski semua manusia tidak mengakui kebenaranmu dan tidak percaya perkataanmu, ada Allah yang tahu, dan pasti tak ada yang tertutupi bagi-Nya. kebenaran akan tetap jadi kebenaran, meski sekuat tenaga manusia menutupinya. Dan sabarlah, yakin saja segala sesuatu di dunia ini akan dimintai pertanggungjawabannya sekecil dzarrah pun, apalagi perkara dengan urusan manusia. Jika di dunia bisa lolos dalam pertanggungjawaban, tetapi kelak di akhirat tidak. Manusia akan saling berhadapan dalam urusan perkara antara mereka. Jika di dunia, manusia bisa lepas dari kesalahannya, tetapi tidak di akhirat. percayalah, segala sesuatu akan ada pengadilannya juga balasannya. meski tak dikatakan, Allah tetap tahu. Maka bersabarlah. Cukup benahi dirimu, dan mendekatlah pada-Nya. Bukanlah dengan Allah semua kan menjadi cukup?. dan Cukup Engkau yang tahu detailnya ya Rabb.

Satu hal lagi yang membuatku tertegun beberapa waktu belakangan ini. Ini sebuah kebaikan dan kemajuan. Meski, jujur ada kekhawatiran yang juga muncul dalam hati, namun sellau kucoba kutepis. Semoga itu hanya kekhawatiranku, bukan persangkaan burukku. Bukankah dengan keadaan yang berubah akan lebih baik?. Entah dimulai sejak kapan, beberapa mahasiswi di kampus mendadak berubah penampilannya. bahkan mereka yang dulunya dengan dandanan yang menor, celana jeans yang ketat serta suara teriakan menggelegar, berganti dengan sosok muslimah. pakaian mereka menjadi syar'i dan itu bukan cuma satu orang tetapi sekarang malah menjamur. Bukan hanya di satu jurusan tetapi kedua jurusan. Pernah bertanya, ini kenapa?. mereka kenapa?. Tetapi segera kubuang pertanyaan itu. Harusnya saya bersyukur. pemandnagan semakin meneduhkan. Saya bangga. Saya bahagia. Saya tertegun. Saya berkaca-kaca. Alhamdulillah, sebuah perkembangan yang baik. Ini membuka pikiran sempit yang dulu mereka pegang bahwa cewek teknik itu identik dengan celana panjang, bukan dengan roknya. Nah sekarang malah mereka banyak yang bergamis dan jilbab yang lebar jauh lebih lebar dari jilbabku kini. Semoga tetap istiqomah dek. Dan ingatlah: Sesulit-sulitnya berhijrah, akan jauh lebih sulit untuk tetap istiqomah. Semoga tetap istiqomah dek, dan semoga kekhawatiranku bahwa kalian mendadak berubah begini jangan sampai hanya karena ikut-ikutan, adalah salah dan keliru. tetaplah begitu dek. Dan yang penting juga, ilmui-lah :). proud of them. 

Segala rasa hari ini semua kukembalikan padamu ya Rabb. Entah kenapa semua itu muncul sekaligus sekali waktu. Bagaimana bisa kutahan gerimis turun menjadi hujan deras?. Pintaku, cukupkanlah hatiku dengan-Mu. Maa fii Qalbi Ghairullah.

Kamis, 010118

Tidak ada komentar:

Silahkan tinggalkan komentar