Euforia Hijrah - Dunia Yaya

Sabtu, 12 Mei 2018

Euforia Hijrah

Euphoria jilbab syar’i ternyata benar-benar berkembang sporadis. Hamper di setiap tempat dan sudut kita akan menemukan perempuan dengan gamis syar’I plus jilbabnya. Jika sebelumnya menggunakan jilbab yang rada gede itu membuat khawatir tidak diterima oleh masyarakat. Sekarang malah sebaliknya. Yang tidak berpakaian syar’I lah yang tidak enak hati. Terlepas dari niatnya apa atau yang lainnya. Yang wajib disyukuri adalah keadaan ini telah memberikan kenyamanan pada mata ketika memandang. Dan nilai plusnya lagi bagi penggiat usaha, ini menjadi lahan bisnis yang empuk. Lihat saja, yang berseliweran di social media adalah pakaian syar’I beserta turunannya. Mulai dari gamis, jilbab, kaos kaki, ciput, bandana, handshock, bahkan sampai pentul.

Kondisi ini tentu menyulam sebuah harapan baru bagi negeri ini. Bahwa kedepannya generasi muda Indonesia akan terselamatkan dari gaya pakaian yang semakin mengumbar aurat. Dan semoga turunan dari pakaian syar’I ini pun bisa terwujud. Apa turunannya? Tentu ke akhlak, tentu ke sikap, tentu ke idealism, dan tentu juga dengan prinsip. Meski banyak yang menyayangkan rasa “holistic” yang kemudian berkurang dan bergeser. Maksudnya apa?. Ketika dahulu yang berjilbab besar itu benar berjilbab dengan segala ilmu yang diterimanya dalam tarbiyah, sekarang bahkan bisa kita temukan yang berjilbab besar bahkan yang bercadar tanpa pernah mengikuti proses tarbiyah. Kasarnya mungkin karena ikut-ikutan. Tingkatan diatasnya karena merasa terpanggil, dan tingkatan diatasnya lagi karena maraknya tarbiyah online. Sebenarnya tidak salah, hanya saja lebih baik sebelumnya benar-benar diilmui. Benar bahwa kaidah perintah itu adalah “sami’na wa atha’na”, tetapi sam’ yang dimaksud adalah sami’ yang benar-benar sami’. Sami’ yang diilmui. Supaya apa? Supaya yang dilaksanakan itu benar-benar diketahui hukumnya, dan juga siap dengan segala konsekwensi atasnya. 

(misalnya) jilbab besar yang dipakai, atau cadar yang digunakan, tidak hanya sekedar dipakai, tetapi mesti diilmui apa hukumnya. Kenapa harus digunakan jika ingin digunakan, dan apa konsekwensinya?. Jika cadar digunakan hanya sebagai sebuah gaya trend masa kini, dikhawatirkan akan ada masa cadar menjamur, tetapi ketika masanya juga akan ramai-ramai dilepaskan. Bukankah itu akan menciderai citra cadar, dan menciderai mereka yang bercadar dengan kesungguhan. Bukan trend yang kita harapkan dari sebuah perubahan, tetapi pemahaman yang diikuti oleh kesungguhan yang kita harapkan. Bukan nyinyir pada mereka yang ramai-ramai bersyariat missal bercadar, justru dengan kondisi ini menjadi obat bagi mata dan juga obat bagi pergaulan yang mencemaskan. 

Apa yang perlu diantisipasi dari keadaan ini?. Pertama, mesti dibuktikan bahwa keadaan ini bukanlah sporadic. Tetapi ini adalah kondisi yang akan permanen. Buktikan bahwa kondisi ini bukanlah sebuah trend yang kelak akan hilang seiring timing yang sudah habis. Tetapi perlihatkan bahwa keadaan ini akan tinggal dan continue. Bagaimana caranya?. Nah ini yang menjadi poin kedua. Bagaimana agar kondisi menjadi permanen, atau paling tidak akan berkelanjutan, tidak langsung hilang dan manjdi sejarah, adalah dengan memahatnya di hati pelakunya. Jalan ini akan lebih baik ditempuh dengan jalan tarbiyah. Atau sederhananya adalah dengan diilmui. Bukankah memang segala sesuatu perlu diilmui baru diamalkan?.

Maka mari benahi kondisi saat ini. Giatkan mengkaji, giatkan mengilmui, ramaikan majelis ilmu, sambangi pakarnya, cari ilmunya, tekadkan keinginan, dan paling penting lagi dari semua itu adalah perbaiki niat. Mengapa? Amal memang perlu ilmu, tetapi amal tergantung lagi pada niatnya. Apa niat berhijrah? Apa niat bersyariat? Apa niat merubah tampilan?. Sudahkah karena Allah?. Jika belum karena Allah, tak mengapa, jangan langsung mundur, tetapi perbaiki niat. Terkadang memang sebuah kebaikan diawali dnegan keterpaksaan. Dan juga terkadang alasan berhijrah itu dikarenakan perkara yang menggelikan. Entah karena telah kehilangan, entah karena patah hati, entah karena diberi penyakit, entah karena ingin didekati, entah karena dia, entah karena mereka, entah karena supaya, entah karena agar. Apapun itu, tak mengapa biarlah semua diawali dengan keterpaksaan dan kelebay-an, mungkin itu adalah jalan penghubung menuju niat karena-Nya. Kelak, kita akan lupa pada alasan-alasan itu. Dan apapun itu awalnya, bukankah Allah melihat prosesnya dan melihat akhirnya? Dan apapun alasan yang pernah dipunyai, Allah selalu memaafkan.

Tidak ada komentar:

Silahkan tinggalkan komentar