Ied yang Makin Miris - Dunia Yaya

Jumat, 15 Juni 2018

Ied yang Makin Miris

Jika sebelumnya sudah cuap-cuap tentang kebiasaan orang jaman now kalau lagi tarawihan, kali ini mau mencuit aktivitas hari Ied. Buat tulisan begini sebenarnya bukan berarti saya pribadi telah luput dari kemirisan itu. Atau telah bebas sensor dari segala kelebayan. (Mungkin) saya pernah melakukannya, tetapi semoga nggak selebay yang saya tuliskan. tulisan ini mencoba mengkritisi fenomena yang nampak sebagai bahan nasehat, tetapi utamanya untuk saya pribadi.

Lebaran, hari bahagia bagi ummat islam. betapa tidak, inilah hari kemenangan setelah sebulan berlatih menjadi pribadi yang lebih baik dengan menahan diri, menahan nafsu, menahan keinginan melakukan perbuatan yang dilarang oleh Allah bahkan yang dihalalkan oleh Allah seperti makan untuk memberi pelajaran supaya bisa turut merasakan kesusahan orang lain. Seperti biasa yang namanya hari kemenangan tentu euforianya juga luar biasa. Penyambutannya juga akan luar biasa. semua akan berusaha tampil perfect, mulai dari rumah dengan segala perabotannya, diri dengan segala perniknya dari atas sampai bawah. Pemandangan pun tidak jauh-jauh dari hal yang baru-baru. Perabotan baru, kursi baru meja baru, gorden baru, cat baru, baju baru, perhiasan baru, sandal baru, mukenah baru, asal jangan pasangan baru aja :D #justkid. Semoga yang baru adalah pribadi kita, bukan berganti kepribadian tetapi bergerak menjadi orang dengan pribadi yang lebih baik. ‘aamiin ya Rabb. 

Pagi ini wajah berseri-seri, senyum merekah, dan keindahan jadi pemandangan. Yang laki-laki, indah dengan sarung, peci dan baju kokonya. Yang perempuan dengan gamis, mukenah, dan tak ketinggalan dengan make-upnya. Semua tampil perfect. Alhamdulillah… hari raya disambut dengan gembira. Tetapi ada yang menyentil pikiranku saat menunggu pelaksanaan shalat Ied sambil menyaksikan orang-orang berdatangan, utamanya kaum hawa. Apa itu? Cantik sih iyya. Pakai gamis sih iyya, tetapi jilbabnya masih disalempang dan diselendangkan. Bagaimana itu?. Yang salempang itu yang jilbab emang nangkring di kepala tapi ujungnya disalempangkan ke bahu. Jadilah leher sedikit kelihatan dan dada jadi tampak. Mengapa begitu sulit menutupi dada? Bukankah itu lekukan yang perlu ditutupi?. Saya saja yang perempuan risih melihat. Soale.. si lelaki banyak yang nongkrong di luar masjid memandang satu-satu bidadari dunia yang pagi ini datang dengan segala kecantikannya. Satu lagi yang diselendangin. Gimana lagi tuh?. Itu loh yang jilbabnya hanya nangkring di leher saja. Tidak dipakaikan ke kepala. Maybe takut rambutnya yang tergerai cantik jadi tertutupi. Aduh.. masih jaman ya pakai jilbab begitu di tengah euforia pakaian syar'i yang lagi marak? #upsss 

Memasuki ruangan khusus untuk jama’ah perempuan, pandangan rada aneh. Kok shaffnya berantakan. Di depan penuh trus di tengah bolong trrus bagian belakang lagi penuh. Ada apa ini? Bukannya salah satu kesempurnaan shalat ketika shaff itu lurus dan rapat?. Tapi kebanyakan pada cuek dengan shaff yang begitu. Dan usut punya usut ternyata karena di tempat yang dimaksud ada kipas anginnya. Alamakkk…. Ini tuk shalat kok masih milah-milah juga. Gimana saudara kita di belahan bumi sana, yang sudah sangat bahagia ketika punya tempat shalat meski hanya di reruntuhan bangunan kena bom. Ada apa dengan kita?. Belum habis kemirisan yang satu, muncul pula kemirisan yang lain pasca shalat ied dilakukan. Penceramah lagi semangat-semangtnya menyampaikan nasehat, dengan pengeras suara yang begitu keras dan jelas, tetapi belum bisa membuat jama’ah hawa konsentrasi memperhatikan. Apa yang mereka lakukan?. 

Hampir di setiap sudut yang terlihat orang yang sudah krasak-krusuk membenahi mukena dan tikar. Okelah mungkin supaya ntar nggak keteteran saat ingin balik. Tapi nggak segitu ribet kali dan nggak sesulit itu kali dirapikan. Kan ntar juga bisa. Tapi yang bikin memicingkan mata, mereka beres-beres sambil mulut cuap-cuap. Kalau suaranya setengah berbisik okelah, tapi ini suaranya begitu keras. Penceramah membesarkan suaranya jama’ah pun makin heboh cerita sana-sini. Heboh pokoknya. Entah apa yang mereka ceritakan semua, sambil tertawa malah. Seolah penceramah hanya suara angin lalu yang tak perlu diperhatikan. Apa lagi?. Hp pada dikeluarkan, kamera pada di on-kan, dan aksi selfie jama’ah pun terjadi. Belum puas selfie, grufie juga dilakukan. Dengan aneka gaya. Aneka posisi, dan tak sekali tapi berkali-kali. Subhanallah… manusia jaman now, selfie number one, nasehat entah ada yang nangkring di telinga apa nggak. Lah, kok bisa tahu? Hayo.. nggak dengar ceramah juga ya? Malah sibuk lihatin orang. Mau tidak mau jadi lihat mereka, lha wong depan samping belakang pada begitu. Sudah selfie, pada buka sosmed lalu share..share.. share… baca komentar… komentar.. komentar… 

Lebih memilukan lagi? Ada anak kecil yang pegang hp dengan khusyuk kesana kemari sambil speaker hp diletakkan di telinga. Nggak ngeh sih dia dengerin apa. Tapi ya dasar posisinya pas di depan, dan dekat banget.. pas duduk dan diajarin, dijelaskan, dan diramaikan oleh orang tuanya, baru tahu kalau itu main tik-tok. Hufft… kayaknya setelah video yang viral beberapa pekan lalu tentang seorang anak yang tercyduk minum air padahal lagi puasa dan ngeyel bilang cuma cuci muka. Sejak itu tik-tok jadi pencarian favorit. Banyak yang ikut-ikutan si anak karena terekspose suka main tik-tok. Makin memiriskan lagi banyak orang tua yang bangga dengan anaknya yang pintar main tik-tok. Turut mengaminkan malah. Diajarin malah. Ya Rabb… kala mestinya kita mengajarkan kepada anak untuk bisa menghargai orang yang sedang berbicara, dan membiasakan mereka mendengarkan nasehat, kita malah mengajarkan mereka untuk tidak peduli semua itu, malah mengajarkan mereka joget-joget dengan musik nyentak begitu. Hikzz… pengen rasanya nyuruh si bapak yang ceramah berhenti saja. Jama’ah sudah keblinger begini. Bikin miris bikin sedih. Hikzz… :’( 

Satu lagi. Sementara dengar video tik-tok, si anak di lepaskan jilbabnya tuk diperbaiki. Tetapi tahu, tak lupa alat make-up keluar, celak (cilla’) pun dikeluarkan dan di-make-uplah si anak. Hm.. bukan urusanku sih mau menampilkan anak secantik apa di hari lebaran. Dan yang lakukan ibunya sendiri. Kenapa saya yang sewot sih?. Ini bukan masalah sewot atau apa. Kalau dibilang sewot sih nggak apa. Tapi saya pribadi miris melihatnya. Anak lebih didik memperhatikan mode daripada akhlak. Anak lebih disuruh kenal segala kecantikan fisik, sedangkan kecantikan hati dengan nasehat tidak dibelajarkan. Rabb… Beginikah kerasnya mendidik di jaman sekarang. Apa cuma saya saja yang miris melihat seperti ini? Apa semua beginian dianggap biasa saja?. 

*curahan seorang yaya, pengamat tak terlihat. Jurnalis tak berprofesi 
#150618 

Tidak ada komentar:

Silahkan tinggalkan komentar