mEMBERCANDAI hATI - Dunia Yaya

Selasa, 26 Juni 2018

mEMBERCANDAI hATI

Membercandai hati itu...
Kala engkau tertawa dengan bahagianya, menganggap yang kau ucapkan adalah sebuah lelucon tetapi yang di hadapanmu malah mesti berusaha keras terlihat tersenyum meski sebenarnya mereka juga ingin berteriak. bahwa candamu tidaklah lucu. Bahwa candamu adalah garing. Bahwa candamu sebenarnya menyakitkan. Kau tahu? Tak semua yang kita anggap canda juga adalah canda bagi orang lain. Tak semua keisengan adalah nyaman untuk orang lain. Tak semua senyum benar adalah senyum. 

Membercandai hati itu...
Kala aku sibuk bercerita padamu. Dengan semangat menumpahkan segala pikiran. segala masalah. Segala kesusahan. segala kesedihan. bahkan segala kesenanganku. Tetapi kau malah asyik bercengkrama dengan layar di hadapanmu. dengan semangat kujadikan dirimu tempat bagiku bercerita berharap engkau bahagia mendapatiku berkisah dengan lancarnya. Tetapi kayaknya dunia maya bagimu lebih asyik ketimbang dunia nyata di hadapanmu. Tahukah bahwa kau telah kupilih menjadi temapt bagiku berbagi rasa?

Membercandai hati itu...
Tatkala dengan banyaknya ons kata yang keluar dari lisanku. Tetapi tak satupun yang hinggap dipikiranmu. Langsung saja pamit lewat telingamu yang satunya. Penjelasanku telah sampai ke akar-akarnya, tapi yang tinggal di kepalamu mungkin hanya ampasnya. kenapa? kau sibuk bercerita pada di sampingmu. kau sibuk menyusun khayalan di tempat dudukmu. dan kau sibuk ber-haha-hihi dengan dia yang ada dibalik layar hpmu. tak bisakah menghargai kala ada yang berbicara di hadapanmu?. 

Membercandai hati itu...
Tatkala kau begitu kepo pada urusan orang lain. Kau begitu mau tahu hidup orang lain. dan kau mau terlalu mengurus keadaan orang lain. Terkadang kita tak bisa membedakan mana benar-benar peduli dan mana yang hanya mau tahu keadaan hidup orang lain. Perhatian yang mestinya diikuti dengan saran, doa, harapan, tetapi malah berlanjut ke kenapa dan kenapa. Kita kadang mudah bertanya pada orang lain, kok tambah gemuk? kok makin kurus? kok jerawatan? kok masih jalan kaki? kok belum beli mobil? kok masih sendiri? kok belum menikah? kok belum punya anak? kok belum nambah momongan? kok nggak kerja? kok mau aja jadi ibu rumah tangga aja?, dan kok-kok yang lain. dan kenapa-kenapa yang lain. Bagi kita mungkin biasa saja, tetapi bagi orang lain justru kepo kita adalah hal yang tidak ingin dibahas. 

Membercandai hati itu...
Tatkala kau membuat seseorang suka kepadamu, jatuh cinta kepadamu, menyayangimu, mempercayaimu, mengharapkanmu, dan memegang janjimu. Namun saat dia benar-benar menjadi seperti yang kau mau, rasamu malah yang memudar. dan kau malah melangkah pergi seolah semua yang telah berlalu mudah untuk dihapuskan. dan rasa yang tertanam pada hati mudah untuk dihapus. Mengapa mesti membuat orang lain jatuh namun tak bisa menggandeng tangannya?. Mengapa mesti menawarkan janji jika kau sendiri yang malah mengingkarinya bahkan menganggap janji itu bisa ditarik?. Mengapa kamu membuat orang yang awalnya sangsi terhadapmu menjadi benar-benar percaya, malah dia tak percaya kau yang pertama pergi. Mengapa memberi pengharapan, membuat orang berharap, namun nyatanya kau tak bisa bertahan dan memperjuangkan. Tahukah seberapa banyak usahanya menjadi yang kau mau. ia telah menitipkan hatinya padamu. melipat rasanya padamu. dan memeluk erat harapan bersamamu. kala kau pergi bagaimana dia?. kemana senyumnya? Bagaimana dia bisa baik-baik saja? apa yang mesti dia lakukan? kemana wajahnya? bagaimana hatinya?. tahukah bahwa hatinya telah dibercandai?

Manusia bukanlah robot dan bukan pula manusia yang merobot. mereka punya rasa sensitivitas. Hati adalah organ yang diciptakan secara fisik dan ruhiyah sebagai tempat mengelola rasa. ia bukanlah tempat menampung segala canda. Ada kalanya hati menyukai canda, tapi tak semua hal yang membercandai hati memanen rasa bahagia. seringkali perilaku kita justru membuat hati orang lain dibercandai. dianggap sepele dan dianggap mainan. padahal disanalah tempat yang mesti berhati-hati menitip. Hati bukanlah bola yang gampang saja dilemparkan. mudah dipantulkan seenak hati. gampang diraih lalu dilemparkan. Hati mestinya menjadi tempat untukmu menitip dan mentata dengan hati-hati. Karena nilai sensitivitasnya tinggi, keliru sedikit bisa membuat yang lainnya berantakan. 

Hati-hatilah dengan hati. karena ia bukanlah pelawak yang mudah saja dibercandai. Sebagaimana kita ingin dihargai hati kita. hargai pulalah hati orang lain. (Mungkin) selama ini kitalah yang tak dijaga hati kita, tapi justru kitalah yang tak menjaga hati orang lain. (mungkin) kita merasa telah benar dalam menata hati, justru tatanan kita memporakporandakan hati orang lain. (Mungkin) kita selama ini merasa terdzalimi karena orang lain, justru tindakan merasa benar kita jauh lebih melukai orang lain. (Mungkin) kita luput dari membercandai hati orang lain, malah sikap, kata, perbuatan kita begitu kencang membercandai hati orang lain. (Mungkin) selama ini kita ingin dijaga hatinya oleh orang, tetapi kita malah tak menjaga hati orang lain. (Mungkin) kita telah merasa kitalah yang sakit, justru kita tak tahu di bilik sana ada hati orang lain yang lebih sakit karena diri kita. 

#selfreminder
#Palopo260618

Tidak ada komentar:

Silahkan tinggalkan komentar