Mencintai Ketinggian - Dunia Yaya

Kamis, 28 Juni 2018

Mencintai Ketinggian

Mirip judul lagunya Anandito Dwis yang dah diremake sama Anisa Rahma ya?. Hahaha... Tetapi nggak ada kaitannya kok. Ini tentang saya yang ditertawai oleh teman karena kepengen banget pergi rekreasi di ketinggian. Sampai ngajak sana-sini tuk pergi sekedar cari udara segar. Emang lagi butuh piknik, hanya saja nggak ada orang yang bisa diajak. Kakak? mana mungkin dengan segala kesibukannya. Adik? lebih-lebih lagi. Jadinya ngajak orang lain. Ditawarkan tempat yang dekat, tetapi semuanya berkaitan dengan air: laut, sungai, pelabuhan. Ahh.. saya butuh suasana lain. Saya maunya di gunung. Di tempat ketinggian. Pokoknya harus tempat ketinggian. Saya suka. Dan kepengen banget. Sampai dibercandai "kalau mau tempat ketinggian, ke rumahnya saja si A, disana sudah dataran tinggi trus panjat pohon wkwkwkwk :D ". Ngenes juga... tapi sampai mikir juga, iyya yah. Mungkin saya mesti nyari pohon yang tinggi trus manjat tuh pohon, supaya keinginan saya terkabul. Bisa berada di ketinggian. Aneh... !.

Apa alasan saya menyukai ketinggian?. Pernah sih bertanya pada diri sendiri, alasannya apa. Hmm.... Pertama: (mungkin) karena di ketinggian itu perasaan bisa lebih nyaman. lebih plong dan bisa terasa lapang. Berada di ketinggian bisa membuat suasana dan pikiran menjadi tenang. Kita bisa menikmati pemandangan sekitar. Melihat dengan lebih leluasa. memandang dengan lebih jelas. Dan merasakan dengan lebih dekat. Apa yang sebelumnya tak terlihat dengan jelas menjadi jelas. Kadang kita tak sadar dengan lingkungan sekitar. Atau bahkan tak sadar dengan tempat dimana kita berpija bahwa tempat itu indah dan asri. Begitulah kala saya melihat kota kecil tempat kelahiranku ini. Melihatnya dari ketinggian barulah sadar bahwa Allah telah menempatkan saya di kota kecil yang indah dengan hamparan kota yang dekat laut dan gunung. Hamparan laut yang biru. Susunan gunung yang rapi. Iya.. kadang kita lupa menyadari keindahan sekitar.

Kedua: Di ketinggian, saya bisa berpikir lebih jernih. Pandanganku lebih luas. Hatiku lebih lapang. Dan ragaku lebih nyaman. Segala kepelikan, kesedihan, kemarahan, kekecewaan, duka, luka, tangis, bahagia, lara, sakit, bisa kutumpahkan disana. Saya bisa dengan leluasa berteriak. Leluasa bergumam. Mudah berpikir dengan jernih. Dan bisa berdialog dengan diriku. Terkadang dengan di ketinggian, kuayun perasaanku. dan kutanyakan bagaimana kabarnya. (mungkin) selama ini kita jarang berdialog dengan diri kita. Kita sibuk berpura-pura. Sibuk membuktikan kepada orang lain bahwa kita baik-baik saja. meski tidak sebenarnya. Kita lupa bahwa jujur pada diri itu bisa menyulam kebahagiaan untuk hidup kita. Tak perlu pengakuan orang lain atas hidup kita. Cukup kitalah yang jujur pada diri kita sendiri. Jika benar tidak baik-baik saja, jujurlah. Marahlah jika perlu. Menangislah jika dibutuhkan. Kecewalah jika mungkin. Dan tertawalah jika benar itu membahagiakan. Jujurlah pada diri apa adanya. Itu lebih nyaman bagimu. 

Ketiga: (mungkin) ini nyambung dari alasan sebelumnya. Mengapa saya suka ketinggian?. Karena disanalah saya bisa mengeluarkan ekspresi diri. Khususnya disanalah saya bisa berkaca-kaca. Bahkan disanalah bisa ada derai. Kala di tempat begitu, entah kenapa hujan selalu mudah mengguyur. Jatuh tanpa diundang. Jatuh tanpa diketahui. Dia sukses mencuri keadaan dan menari. Dan saya pun terbuai dengan keadaannya. Berkutat dengan hujan dan mencoba menciptakan pelangi setelahnya. Bahwa setelah badai yang menghinggapi akan selalu ada lukisan warna indah yang akan menghiasi. Jadi kala di ketinggian itulah, segala airmata yang pernah menumpuk berjatuhan dengan santai. Airmata karena apa?. Ada banyak air mata yang bisa saja terjuntai. Entah airmata rindu. Entah airmata kecewa. ENtah airmata kemarahan. Entah airmata kesdihan. ENtah airmata bahagia. ATau bisa jadi karena airmata dosa yang menggunung tinggi. Bukankah kita adalah insan yang penuh dosa?. Tiap harinya (mungkin) saja dosalah yang kita kumpulkan, dan kita lalai akan hal itu. Kala melihat ciptaan-Nya yang begitu mengagumkan, disanalah rasa kerdil jiwa akan hadir. Hamba yang begitu mudah angkuh pada pencapaian diri. Raga yang begitu suka kagum pada diri sendiri. Atau bisa jadi adalah diri yang selalu merasa luput dari segala kesalahan, hingga lupa bahwa yang kita anyam tiap hari sebenarnya adalah dosa. Dan yang kita kejar selama ini adalah dunia semata. Adalah dengan melihat dari sana, keterbatasan kita akan terasa, kelemahan kita akan nyata. Dan keangkuhan kita akan sirna.

Kampus Putih Tulang, 28 Juni 2018. 17.57 p.m.

Tidak ada komentar:

Silahkan tinggalkan komentar