Tarawih, Filosofi dan Penyikapannya - Dunia Yaya

Senin, 04 Juni 2018

Tarawih, Filosofi dan Penyikapannya

Ramadhan adalah bulan penuh kegembiraan bagi ummat islam. Bagaimana tidak, bulan ini mempunyai banyak keistimewaan, diantaranya adalah amalan dilipatgandakan, dosa-dosa diampuni, dan adanya malam lailatul qadr. Dan ada aktivitas yang adanya cuma di bulan ini adalah shalat tarawih. Sampai sekarang masih ada yang belum bisa membedakan apa sih beda antara shalat tarawih, shalat lail, dan shalat tahajjud. Namun tulisan ini bukan mengulas tentang fiqh shalatbtersebut. Yang jelas shalat tarawih adalah sebutan shalat lail yang khusus dilakukan di bulan ramadhan. Nah loh, memang istimewa kan?. Berbicara shalat tarawih, ada beberapa type orang yang akan kita temui. Inilah yang akan disentil dalam tulisan kali ini.

Type pertama: 
Yang semangatnya menggebu ke masjid pas ramadhan saja. Tipe ini mendadak menjadi pribadi yang beda. Tarawih menjadi rutinitas yang tak boleh ketinggalan. Semua part dalam shalat tarawih tidak terlewatkan sedikitpun. Salahkah?. Ahh.. jangan terburu-buru mengklaim. Itu masih mending daripada mereka yang entah ramadhan atau bukan sama saja. Tetap melaksanakan aktivitas dunia yang menipu tanpa tersentuh sedikitpun menyemarakkan ramadhan atau memperbaiki diri atau menjadi diri yang berbeda dari biasanya. Alih-alih setelah keluar ramadhan bisa membekas menjadi kebiasaannya. Kan mending berhusnudzon saja. 

Type Kedua: 
Orang yang datang ke masjid pas shalat tarawih saja. Maksudnya?. Shalat isya ada yang melaksanakan di rumah. Tetapi ada juga yang tidak melaksanakan shalat isya tetapi pede banget shalat tarwih. Mungkin meramaikan. Entahlah (nah,,, kok jadi so’udzhon? ). Sebenarnya nggak boleh ya shalat isya di rumah baru ke masjid shalat tarawih ya?. Tidak ada larangan sih. Hanya saja kenapa mesti tidak isya berjama’ah? Bukannya dengan jama’ah isya di masjid malah pahalanya lebih berlipat ganda?. Kecuali sih ada hal penting yang dilakukan sebelumnya, ya maybe bisalah. Tetapi jika tidak ada alasan yang begitu mendesak, mengapa tidak ingin meraup amal dengan shalat isya berjama'ah sebelum tarawih?. Dan juga kenapa tidak ingin mendengar ceramah?. Bukannya khas ramadhan, khas tarawih adalah kita akan disuguhi siraman ruhiyah setiap malamnya. Mengapa menolak nasehat?. Bukankah mungkin ruhiyah kita lagi kering kerontang mesti disirami?. “ahh.. ceramahnya nggak menarik, bikin ngantuk wae”. Nah segaring-garingnya ceramah, paling tidak ada yang bisa dipetik, paling tidak kita dapat amalan duduk bermajelis. Emang nggak mau amalan bermajelis ya?. 

Type ketiga: 
Ada yang pernah pas shalat tarwih, berdiri untuk takbir ketika imam telah selesai baca surah Al-Fatihah ya?. Hayoo.. ngaku….. yang senyam-senyum bisa jadi tersangka #uppzzsss. Itu dia type ketiga. Pengennya shalat tarawih secepat kilat. Males berdiri lama-lama. Jadinya mau berdiri takbir dan ikut imam ketika sang imam selesai baca fatihah. Biasa lihat beginian kan?. Saat orang pada berdiri mengangkat takbir, masih juga nyante duduk dengan gontai. Bahkan ada yang parah kesempatan pegang HP. Ngecek notif kali, atau pasang status ya? :D 

Type keempat: 
Nah ini efek dari generasi jaman now. Datang ke masjid dengan membawa HP. Kalau ada yang nanya: Salahkah bawa HP?. Coba Tanya balik: emangnya bawa HP ke masjid untuk apa?. Mau update status kalau lagi tarwihan? Awas loh nanti jatuhnya ke riya. Atau mau menghilangkan kebosanan kala ceramah garing?. Loh, bukannya itu malah lebih nggak bijak dan nggak sopan?. Jangankan ceramah, ngomong biasa aja kalau di depan kita malah asyik dengan HP, nyesek kan?. Atau takut HP-nya hilang? Nah loh, emang di rumahnya nggak bisa disimpan ya?. Atau alasan nggak bisa jauh dari HP. Nah.. ini lebih bahaya lagi. HP-nya gak kemana-mana kok. Nggak kabur kok (kecuali diambil maling hehehe). Sudahlah… nggak ada alasan yang sangat krusial membuat kita mesti membawa HP ke masjid. Yang ada malah jadi tidak khusyuk, bentar-bentar pengen lihat HP. Iyya kan? :D. 

Type kelima: 
Ini mirip type sebelumnya. Bukan HP sih dibawa, tetapi Al-Qur’an. Lah emangnya kenapa kalau bawa Al-Qur’an? Bukannya itu lebih baik lagi?. Al-Qur’an-nya dari sisi manapun tentulah baik. Membawanya juga nggak apa-apa sih. Cuma memilah waktu membacanya yang ingin dikritisi. Maksudnya?. Gini loh, pernah nggak lihat orang ke masjid bawa Qur’an dan bacanya pas ceramah tarwih?. Bukannya itu masuk dalam bab adab ya?. Bukannya akan lebih baik dan santun ketika ceramah, meski bahannya garing itu mulu yang dibahas tiap malam, tetapi yah paling tidak menghargai yang lagi ceramah. Al-qur’annya disimpan dulu lah. Dengarkan ceramahnya, kalau itu aja yang diulang dari malam pertama sampai malam ke-sekian, berpikir positif, mungkin kita masih perlu mengkaji bab tersebut. Misal dari malam pertama yang dibahas Al-Baqarah ayat 183 dan 185, nggak apalah mungkin kita emang masih perlu mengkaji itu. Bagaimana jika tiap malamnya bahasan beda, tetapi kita malah sibuk membaca Al-Qur’an. Ada yang mau bilang, kan sambil dengar?. Hmm… nggak konsen tuh diantara keduanya. Nggak konsen ngaji dan nggak konsen mendengar. Atau beralasan daripada ngantuk, atau daripada yang lainya dipikirin. Nah.. makanya konsen mendengar. Ini bukan menggurui sih. Cuma kadang merasa risih melihat jama’ah yang pada asik semua baca Qur’an pas ceramah. Gimana perasaan sang penceramah ya?. Coba deh kalau kita yang lagi ngomong tp yang diajak bicara malah asik melakukan yang lain. Iyya sih yang dibaca Al-Qur’an, bukan Koran, bukan Hp, tetapi bisa kan baca Qur’annya entar setelah ceramah, setelah shalat?. Supaya semua pada enakan, pada konsen. Atau gini, kalau emang pada mau ngaji semua selesai shalat isya, kenapa nggak ngaji sekalian aja ya?. Ayolah… bawa Qur’an bukan kesalahan, Al-Qur’an adalah sebaik-baik bacaan, tetapi membacanya juga mesti melihat kondisi kan? (afwan, jika kesimpulan saya ini keliru). 

Type keenam: 
Ini type mengkhusus ke shalat witir. Apa itu shalat witir?. Shalat penutup dari segala ibadah yang dilaksanakan malam hari dengan bilangan ganjil. Ada apa memangnya denang shalat ini?. Lihat kan, pas usai shalat tarawih menuju shalat witir biasanya shaf shalat itu jadi terombak. Kenapa?. Sudah banyak yang pulang. Alasan pulang sebenarnya bervariasi. Hanya saja yang perlu diingatkan adalah yang pulang tanpa alasan tepat, hanya karena melihat banyak orang yang pulang, juga ikut-ikutan. Atau bergumam: tuh, ustadz-nya aja nggak witir, padahal ustadz kan ya. Ikutan ah. Padahal sang ustadz balik karena pengen tetap mengakhirkan shalat witir, sedangkan tengah malam nanti dia mau bangun shalat tahajjud lagi baru witir. Nah… itu baru alasan yang masuk hati, eh.. boleh diterima. Karena emang nggak boleh ada 2 shalat witir dalam semalam. Jadi mereka yang masih mau shalat tahajjud lagi memilih tidak ikut shalat witir. Meski ada juga yang tetap shalat witir berjama’ah dan nanti kalu bangun shalat tahajjud nggak witir lagi (pembahasan ini lebih baik dikaji di bab fiqh. Karena ada perbedaan pendapat mengenai hal ini). Nah loh, yang nggak bangun-bangun shalat tahajjud kok ikut-ikutan nggak shalat witir? Nggak kepengen amalan berlipat ganda ya?. 

Type ketujuh:
Kalau ini memuat barisan para ABG atau yang lagi nyari sensasi. Apa itu?. Type ini diisi oleh mereka yang ke mesjid tarawih karena pengen lihat gadis-gadis sekitar yang baru nongol pas tarawihan. karena katanya cewek yang keluar malam tarawihan pakai mukena itu cantiknya nambah :D. dan begitupun sebaliknya, cowok yang nggak pernah alfa shalat tarawih cakepnya juga nambah. Maka bagi generasi labil, tarawih dijadikan ajang lirik sana lirik sini. tebar pesona sana-sini. Kali aja bisa pulang bareng. atau bisa kenalan dan ngajak jalan-jalan pas habis subuh nanti. Jadilah tarawih selalu dinanti, datangnya selalu ontime, lengkap dengan tampilan yang sempurna. Ada juga sih yang bukan nyari cewek tapi nyari akhwat. #upzzz.. cewek dan akhwat sama aja ya? eh, bedalah.. akhwat itu cewek plus. yang plus-plusnya lebih banyak :). Emang beginian masih ada ya?. Katanya masih ada. masih katanya loh ya. jangan kesinggung :D. Tetapi yakin aja ini kebanyakan dilakukan oleh mereka yang masih remaja, atau mungkin mereka yang ababil hehehe... #piss

Type kedelapan: 
Nah ini type yang ideal pokoknya dalam ngikut agenda tarawih. Datang sebelum shalat isya. Bisa sholat tahiyatul masjid dulu kalau masih ada waktu barulah ngaji, kemudian isya berjama’ah, shalat rawatib ba’dha isya, dengarin cermah dnegan khusyu’, ikut shalat tarawih hingga akhir, sampai witir malah, kecuali yang mengharuskan witir paling belakangan pas selesai tahajjud, dan emang mau tahajjud, bolehlah. Semoga kita semua bisa seperti ini. Dan dengan inilah filosofi Tarawih pun muncul: 
Belajarlah dari shalat tarawih. Bukan siapa yang datang di awal, tetapi siapa yang bertahan hingga akhir. 
Asal jangan datang pas shalat tarawih rakaat kedua dan imam sudah hampir rukuk hehehe.. :D.
04062018, 00:42 wita

Tidak ada komentar:

Silahkan tinggalkan komentar