Wanita Tangguh - Dunia Yaya

Jumat, 10 Agustus 2018

Wanita Tangguh

Ada pelajaran lain hari ini. Mengunjungi seorang ibu dengan keenam anaknya yang masih butuh biaya besar agar bisa mengejar cita-citanya. Namun kesemuanya mesti dijalani sendiri, dipikul sendiri, dan dihadapi sendiri. Berjuang menjadi orang tua yang "seolah" tunggal. Sungguh perjuangan yang benar-benar memberikan pelajaran bahwa: Perempuan itu manusia yang tangguh, dibalik kelemahannya mereka masih tetap bisa berjuang sendiri mengepalkan tangan menantang kerasnya dunia. (Juga) bahwa, rumah tangga tidaklah semanis yang dipikirkan. Saat biduk rumah tangga benar-benar dilayarkan, disitulah segala kepelikan, ujian, cobaan, kesabaran akan benar-benar diuji. Hal yang indah atau dulu terasa indah menjadi kisah yang berbalik genre. Yang diperlukan kemudian adalah penerimaan bahwa tiap kita punya kekurangan, dan karena kekurangan itulah harusnya bisa saling melengkapi.

Mata itu berkaca-kaca berkisah. Kupikir kepelikan hidupnya tidaklah seterjal itu. Sebelumnya kusangka, dia hidup bersama dan bahagia bersama lelaki itu. Lelaki yang sejenak pernah kuperhatikan sangat dihormatinya. Bahkan yang kutangkap, berbicara biasa saja dia begitu sopan dan terkesan nggak enakan. Sebuah pernikahan dengan seorang lelaki dari keluarga bangsawan. Meski dengan membawa gelar itu, apakah tak bisa lebih realistis melihat kehidupan?. Bukankah kepala keluargalah yang bisa lebih banyak berpengaruh pada lebih meningkatnya taraf kehidupan. Bangsawan bukan menghasilkan uang, maka haruslah tetap bekerja. Kalau penghasilan suami tidak mencukupi, tentu seorang istri akan tergerak sendiri mencari alternatif. Dengan begitu, aktivitas rumahan akan ada terbengkalai. Perlu pemahaman bahwa istri pun punya rasa capek, butuh sejenak istitahat, dan butuh menarik nafas setelah balik dari aktivitas untuk merapikan rumah. Apa salahnya jika suami yang melakukannya?. Bukankah urusan seperti itu tidak mutlak hanya bisa dikerjakan lelaki?. Yang mengherankan itu kalau tak bisa menafkahi, tak bisa mengambil bagian pekerjaan rumah, namun tak bisa menerima bahwa kehidupan rumah tangga mereka belum juga berkecukupan. heyyy.... yang jadi kepala keluarga sopo?. Rasanya ada yang mengaduk-aduk perasaan ini kala kisah itu mengalir. Sebegitu keraskah dunia pernikahan?

Memperhatikan setiap berkas, serta memverifikasi datanya. Kutemukan ada banyak lagi kisah perempuan-perempuan tangguh. Ada yang harus menanggung bebalnya seorang lelaki yang begitu PD menjadi kepala keluarga, tetapi jangankan memberi nafkah, memberikan citra baik saja tidak. Memberikan rasa nyaman juga tidak. Yang ada, harus menerima cibiran dari orang sekitar, memiliki seorang pria yang statusnya buron. Kerja tak jelas. Mabuk-mabukan. Dikejar-kejar polisi. Ditambah juga gemar main tangan. Mencekik biasa dilakukan. Merampas uang bantuan untuk anak-anaknya pun tega digemari. Ada yang lelaki macam itu?. Apalagi? Banyak.... perempuan-perempuan hebat yang dengan kedua tangannya masih saja dengan kokoh menantang kehidupan. Perih, sakit, sendiri, lelah, tak menjadikan mereka surut langkah melanjutkan hidup.

Sejenak berfikir, Begitukah hidup?. Keindahan yang dirangkai dalam angan sebelum proses pernikahan ternyata mesti diuji dengan realita, bahwa ketika biduk benar dikayuh yang tersembunyi kemudia muncul dipermukaan. Kata indah nan romantis bukan lagi bumbu pemecah peliknya hidup. Kata sepenanggungan yang dulunya yakin diucapkan serasa pilu. Lelaki yang diharap-harap menjadi pengayom dalam kehidupan, tempat bermanja, bercerita, saling berbagi, dan bisa bersama, menerima, penuh perelaan, nyatanya waktu akan mengujinya. Hanya tinggal waktu, segala sifat baik akan tampak jelas aslinya. Hanya menunggu masalah sampai penerimaan itu benar ada.

Hai sista yang masih sendiri, Jangan terlalu berhayal setinggi langit bahwa ketika masuk ke dunia pernikahan kepelikan akan mudah diatasi. Justru kenyataannya kepelikan akan bertambah. (juga) jangan begitu yakin bahwa lelaki yang pernah begitu perhatian, begitu romantis, penuh janji, benar nanti akan selalu begitu. Justru segala sifat, sikap, perilaku, karakter semua akan terbuka kala biduk rumah tangga sudah dilayarkan. Bukan lagi kata romantis yang kita butuhkan, tetapi lebih ke rasa saling memahami dan menerima. Jangan dulu begitu bangga pada lelaki yang saat ini begitu meyakinkan. Apalagi dia berkata penuh janji. Cinta dan janjinya kelak akan teruji dengan sendirinya. akan beradaptasi dan berevolusi. Waktu dan masalahlah yang akan membuatnya terang.

*Kota Palopo, dalam nuansa PKH*

Tidak ada komentar:

Silahkan tinggalkan komentar