Langsung ke konten utama

Romantisme Masa Kecil

Jadi ingat masa kecil... iya ya.. rasax dulu qt puas dan senang terus setiap bermain dgn banyak teman, banyak permainan pokoknya: main parlus, karet, main tali, sunju,butata2, kasti, sepiring dua piring, do-mi-ka-do, ain kelereng siapa yg kalah maka bengkak kaci2nya :D. sampai ke laut cari kerang, ke gunung cari bambu untuk buat tembak2an, atau cari bakal jambu tuk jd pelor tembak, atau cari buah2an hutan entah nama dalam bahasa indonesianya apa, ex: buah coppeng, ropi, pae2, bibbi, jambu kalongkong. pernah ketemu ular, pernah dikejar orang. dan juga masa saat takut keluar rumah karena issu vampire datang ke indonesia hahaha... sampai2 biar ke sekolah mesti rame2. atau issu pemotong kepala tuk ditumbalkan pd jembatan di kalimntan. hahah... dan tak kalah menyenangkan adalah ketika hujan turun jd saat yang slalu dinantikan, kenapa? krn waktunya bermain air dengan puas, bermandi air hujan, kejar-kejaran dengan teman, berlarian di bawah derasx hujan, weits... mantap..


eh, juga masih banyak lagu anak-anak, yang bebas dr tema cinta, tema sakit hati, tema lebay seperti yg anak2 banyak nyanyikan sekarang. lagu2 masih bernuansa n berkarakter anak-anak. kalau sekarang mana??

Penghibur bersama di rumah adalah mendnegarkan sandiwara radio. dulu ada di radio kelanka jam 3 kalau ndk salah, ada juga malam. saking mau mendengarkan sandiwara kalau batterai sudah aus, dibela2i dijemur di tengah terik matahari :D

Kalau ramadhan, lebih seru lagi. karena siang akan disibukkan kesana-kemari bersama teman mencari perlengkapan buka puasa. mencari berbagai buah-buahan tuk disantap saat buka puasa. apalagi sering musim mangga. eh.. saat buka puasa langsung santap kolak atau pisang ijo, kekenyangan... maka buah yang sudah dikumpulkan akhirnya tidak ada yang dimakan. mubassir... malamnya, taraweh jd kesukaan. beramai-ramai dan saling mengajak ke mesjid. meski dulu mukena tidak secantik2 sekarang. dulu mukenax belum sepasang dengan sarungnya, biasanya cuma pakai sarung batik. saat sahur, ibu bangun tuk memasak, kami malah bangun langsung keluyuran mencari mangga dan jambu kalongkong di halaman orang. meski ada yang mengizinkan ada juga yang tidak. pernah saking asyiknya mencari jambu kalongkong yang jatuh, eh yang punya bangun, akhirnya mau tidak mau mengambil langkah seribu #kabooorr lewat belakang, alias lewat sungai yang kalau siang saja takut melewatinya. tapi namanya sudah takut dikejar, akhirnya lari tunggang-langgang wkwkwkwkwk

yang masih teringat juga adalah kejadian 98. saat reformasi. dimana2 kacau, berita tiap har demo dan kekacuan, sekolah pun jd tidak nyaman karena ada berita akan ada demo besar-besaran dimana2. dan juga... saat tanggal 9 - 9 - 99, banyak yang tidak pergi sekolah karena takut saat ke sekolah terjadi kiamat hahaha.... dulu temanku di SMP banyak tidak hadir di sekolah. :D

Maka bersyukurlah lahir di tahun itu. masih bisa merasakan indahnya dunia anak-anak tanpa dikarbit tuk cepat dewasa atau mengikuti orang dewasa. hehehe...

#masakecilkuindah
#romantismemasakecil

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Keluarga Elhabashy

Tahu kan ya dia siapa Maryam, Hamzah, dan Mundzir Elhabashy?. Ada yang nggak kenal?. Wah harus kenalan sama dia. Sebenarnya bukan lebay atau gimana gitu. Cuma bener terkagum-kagum mengikuti perkembangan keluarga ini. Seperti pada tulisan sebelumnya bagaimana sosok Hamzah membuat saya terharu dan terkagum-kagum sampai saya kepo mau tahu nih anak dari mana, dan bagaimana bisa menjadi hafidz di negeri minoritas muslim dan juga terkenal dengan negeri yang anti islam. Bisa dibayangkan bagaimana menjadi muslim di negeri minoritas apalagi dengan suguhan kebebasan. Bagaimana tumbuh sosok remaja yang didik menjadi generasi Qur'ani. Keterkaguman saya semakin bertambah setelah tahu kakaknya ternyata juga seorang hafidzah (Maryam Elhabashy) dan adiknya (Munthir Elhabshy) pun bercita-cita sama dengan kakak-kakaknya. Aih... betapa bangganya orang tua mereka. Keterkaguman saya semakin lengkap dengan melihat bagaimana ayah mereka begitu perhatian dan telaten selalu ada untuk anak-anaknya. Aya

Hamzah Elhabashy

Who is He?. Mungkin masih banyak yang belum mengenalnya, bahkan mengetahui namanya. karena pada dasarnya memang dia bukanlah seorang aktor atau semacamnya yang membuat dia terkenal. Namun, sejak kemunculannya di depan khalayak pada kompetisi Dubai International Holy Quran Award (DIHQA) 2015, akhirnya sosoknya menyita banyak perhatian. betapa tidak, sosoknya memang akan mudah menarik perhatian, gaya yang mungkin tidak seperti ala seorang hafidz, rambut panjang, lebih pakai setelan jas padahal yang lain kebanyakan pakai jubah plus kopiah atau sorban, wajah imut, manis, dan cakep (hayo, siapa yang nolak kalau dia cakep? hehehehe....). Apalagi..? Karena dia berasal dari negara USA, Amerika Serikat. Bukankah Amerika serikat sudah lazim dianggap sebagai negara yang selalu anti islam, sepakat menyebut islam sebagai teroris, dan negara yang selalu saja rasis dengan islam. Disana, islam adalah agama minoritas, agama yang hanya dianut oleh segelintir orang saja. Dengan kebudayaan yang ala bar

Adab Bertamu

Momen lebaran adalah adalah waktu yang sudah menjadi tradisi untuk dijadikan ajang silaturrahim baik ke keluarga, kerbat, teman, ataupun kenalan. Bukan hanya sekedar datang bertamu, tetapi motivasi dasarnya adalah melekatkan kembali silaturrahim yang mungkin sebelumnya lama tidak terhubung, renggang, ataupun retak. Atau singkatnya disebut sebagai ajang maaf memaafkan. Meski sebenarnya meminta maaf dan memaafkan tidak harus menunggu lebaran. Acapkali berbuat salah selayaknya harus meminta maaf.  Dengan adanya moment silaturrahim tersebut, lalulintas pengunjung dari dan ke rumah seseorang akan meningkat. Maka tiap keluarga mesti bersiap menerima tamu yang tidak seperti biasanya. Hanya saja, masih ada tamu yang datang tidak menunjukkan etika yang baik saat bertamu. Bukannya membuat simpatik nyatanya membuat toxic. Kayaknya kita masih perlu belajar adab bertamu. Berikut beberapa hal yang perlu dihindari saat bertamu ataupun bersilaturrahim: 1. Tim penanya. Selalu bertanya status. "Kap