Diri Ibarat Rumah - Dunia Yaya

Minggu, 12 Juni 2016

Diri Ibarat Rumah

Apakah anda pelaku dosa atau pelaku kebaikan? Apakah tak ada alasan, tak ada cara agar bisa keluar darinya? sekali lagi, hidup itu selalu on going, selalu bergulir dan selalu berproses. Hidup kita tak pernah stagnan. karena tak pernah stagnan, maka begitulah juga dengan keimanan kita. Keimanan selalu naik turun tergantung keadaan kita. terbuai dengan keadaan atau berusaha keluar darinya. Mari kita analogikan diri kita dengan sebuah rumah. ibarat sebuah rumah, tentu dihuni agar bisa memberi kenyamanan. 


Bagaimanakah agar sebuah rumah selalu tampak nyaman? Rumah harus sering dibersihkan, dipelihara, direnovasi, dipercantik dengan aneka furniture. Bila rumah kita sudah bersih, besar, dipenuhi banyak furniture, bangunan dan peralatan yang baru. sampai kapan sensasi fresh akan dirasakan meski semuanya baru?. Meski baru masih harus sering dibersihkan, disapu, dijaga, diatur bahkan mungkin akan ada renovasi entah besar atau kecil. jika tidak, rumah yang tadinya besar, baru, bersih dan rapi akan mudah berubh menjadi rumah yang kotor, berdebu, dan tidak teratur. Begitu pula dengan diri kita. meski kita sudah sering berbuat kebaikan, sudah baik, sudah sholeh sholehah, kita masih hatus menjaganya agar tetap masih seperti itu. Harus terus berbuat kebaikan. harus terus membenahi diri, harus terus membersihkan diri. Harus terus banyak mengoreksi diri, beristighfar, dan meminta ampunan. Tidak ada jaminan kalau setiap hari akan sama derajat keimnan kita. Rumah yang sebersih dan semengkilat bagaimanapun, tidak pernah dibersihkan akan kotor juga, akan berdebu juga, dan lama kelamaan akan rapuh juga. maka selalu refresh diri dengan tetap berbuat kebaikan, banyak bermunajat, dan beristghfar.

Bagaimana dengan rumah yang kotor? Akan tetap saja sama menjadi kotor dan jorok jika tak tergerak membersihkannya. Seberapapun jorok dan kotornya, bahkan debu setebal apapun, tetap saja bisa dibersihkan dan bisa berubah menjadi rumah yang asri dan nyaman. Hanya diperlukan keinginan untuk membersihkannya. Mungkin tidak serta merta bersih seperti yang kita inginkan. Tetapi lambat laun, semua debu akan terangkat. Diri selalu berbuat maksiat? Kejahatan? dosa? bersihkanlah! Dosa bisa jadi tak terangkat langsung seluruhnya, tetapi dapat dihilangkan secara bertahap. Selalu bersihkan diri dengan berbuat kebaikan dan istighfar. Bukankah memang jika kita berbuat kesalahan, maka harus diiringin dengan kebaikan yang lebih besar.

Intinya bahwa, jangan puas akan diri saat ini. Selalu dibutuhkan usaha untuk selalu memperbaiki keadaan saat ini. Karena Hasil tak pernah mengkhianati Usaha.

(Kayaknya, tulisan ini terganggu dengan berita bahagia yang kudapat pagi ini. Jadi ide entah kemana, dan gagal fokus beneran. Ahh... barakallahufikum adik2ku. kembali muncul Labkommat couple. slamat..slamat...)

*onedayonenote*
*ramadhanmubarak*

Tidak ada komentar:

Silahkan tinggalkan komentar