Hidup yang Menyedihkan - Dunia Yaya

Senin, 13 Juni 2016

Hidup yang Menyedihkan

Apakah hidup yang menyedihkan itu? bagaimana? seperti apa? mungkinkah hidup yang diliputi serba kekurangan? hidup dalam kemiskinan? hidup dalam kondisi serba tidak ada? Tak punya harta, jabatan, kekuasaan, kekuatan? ataukah yang hidup  setiap hari mengais nasib untuk sesuap nasi? ataukah mereka yang tak punya rumah, tak beralas kaki? atau jangan-jangan mereka dengan fisik yang terbatas?. cobalah bertanya kepada mereka, apakah hidup yang mereka jalani semua bernama kesedihan?. Tak pernahkah kita melihat mereka tertawa lepas dan bahagia?. bahkan, mereka dengan kekurangan yang sering kita defenisikan sebagai kesedihan dengan mudahnya tertawa bahagia. meski sederhana menurut sebahagian orang. Bukankah memang kebahagiaan itu sederhana? 

Hampir semua kita sepakat bahwa hidup yang seperti digambarakan diatas, itulah yang menyedihkan. Yang mana lagi menyedihkan selain itu? apa ada?. Ada hal yang sejatinya menjadi hidup yang menyedihkan. Hidup yang seperti apakah itu?. "Hidup yang membenci kehidupan itu sendiri". Hidup yang selalu dibarengi dnegan kebencian. Bukan membenci orang lain, tetapi membenci kehidupannya sendiri. Tidak menerima apa yang dia miliki, apa yang dicapai, apa yang dipunyai, apa yang bermanfaat darinya, apa yang dijalani, apa yang dihadapi. Apapun yang ada pada dirinya selalu ditolak oleh dirinya sendiri. Hingga hidupnya penuh dengan kebencian, amarah dan dendam. Parahnya, semua bukan ditujukan kepada orang lain, tetapi ditujukan kepada dirinya sendiri.

"Kau bertahan pada semua luka yang menyakiti hatimu. kau tak mengakui dirimu sendiri. Kau tak mengakui orang disekitarmu. kau tau mau menerima orang lain. kau tak pernah mau tahu apa yang kau butuhkan. Kau menyiksa dirimu. hidupmu tidak fokus. tetapi kau mencoba untuk terlihat kuat dan tenang. Itulah orang yang paling tidak beruntung!. Itulah hidup yang paling menyedihkan!" *God's Gift 14 Days*

Itulah hidup yang menyedihkan. Hidup yang tak peduli dengan dirinya, menyiksa dirinya, berpura-pura dengan dirinya, selalu menyalahkan dirinya, Tidak mau menerima apa yang dimiliki. Hargailah dirimu!. Sebagaimanapun kecewa dan rasa bersalah yang hadir, jangan persudutkan dirimu terlalu dalam. Jangan benamkan dirimu dan palung terjauh. hargailah! Sayangilah!. Bukan mempersalahkan diri yang harus kau lakukan. Bukan berpura-pura yang harus kau perlihatkan. Dan bukan penolakan yang harus kau berikan. Dirimu mungkin tak selalu benar. kau mungkin pernah sangat bersalah. Mungkin dirimu ingin memberikan pelajaran pada dirimu. namun, jangan lupa pula tuk memberikan ruang maaf kepadanya. Persalahkan, tetapi Maafkan. Maafkan lalu perbaiki. karena bagaimanapun, hidupmu berhak membahagiakan. ^_^
*Ramadhan Mubarak*

Tidak ada komentar:

Silahkan tinggalkan komentar