Suara anak Perempuan Menjelang Lebaran - Dunia Yaya

Rabu, 06 Juli 2016

Suara anak Perempuan Menjelang Lebaran

Lebaran selalu menawarkan kegembiraan bagi setiap ummat muslim. Lebaran seperti permata yang bernilai tinggi dan selalu didambakan. Wajar saja, ketika lebaran telah dekat, banyak aktivitas yang justru beralih untuk mempersiapkan segala sesuataunya. mempersiapkan pakaianlah, makannanlah, rumahlah, peraotlah, assesorislah, inilah, itulah. Hingga ada yang gagal fokus di akhir ramadhan, sibuk bertawaf ria atau beritiqaf yang tidak semestinya. Tawafnya beralih ke pasar, mall, atau tawaf ke terminal dan bandara. katanya, ramadhan dibagi menjadi 3 tahapan tawaf. pekan pertama tawaf di mesjid, pekan kedua tawaf ke mall, dan pekan ketiga tawaf di terminal/pelabuhan/bandara. Apakah kita termasuk salah satu diantaranya?

Kalau para ibu-ibu di rumah, bukan tawaf yang dilakukan, tetapi beritiqaf di rumah, bukan di mesjid. apa yang dilakukan di rumah? bukan lebih banyak beribadah tetapi beritiqaf membongkar sana sini mengatur posisi semua barang di rumah, ganti sana sini perabot dan assesoris rumah. dan yang terakhir yaitu i'tikaf membuat kue lebaran. H-7 lebaran, biasanya rumah-rumah sudah dihiasi aroma kue lebaran. toples pun berjajar rapi. Dan anak gadis pun  harus ikut serta menemani i'tikaf itu. Tak terkecuali saya.

Kali ini, pembuatan kue sangat terlambat, H-2 barulah ada aktivitas pembuatan kue. Biasanya, kakak iparku yang sibuk di dapur mempersiapkan kue seperti apa yang mesti dibuat. namun, karena ia lagi sakit, jadilah nyaris tidak ada pembuatan kue di rumah. Di hari pertama hanya memanggil tante dan tetangga membantu membuat kue. itupun hanya sedikit. Rasanya ada rasa miris dan sedih. Karena kalau saja saya pintar membuat kue, mungkin sejak kemarin  kue sudah kubuat. namun apalah daya, saya hanya bisa meminta maaf bahwa tak banyak yang bisa kubuat. bahkan di hari kedua pembuatan kue, kakak laki-lakiku yang membuat adonan kue, saya hanya kebahagian membakar, dan juga mengatur kue. 

ahh ibu.. maafkan anak gadismu ini. maaf karena anakmu ini tidak pandai bahkan tidak bisa membuat kue. Kalau bisa memilih, saya lebih baik disuruh membwakan materi berjam-jam dalam kegiatan daripada disuruh membuat kue. asli tidak bisa. Yang bisa kulakukan hanya melekukan pembakaran, itupun masih sering gosong. Berarti perencanaan dan pendugaan yang kulakukan masih keliru. huffftt.... yang paling bisa kulakukan hanyalah menyusun kue ke dalam toples. dijamin akan rapi. Betapa tidak, menyusun kue itu seolah menyelesaiakan deret dan barisan aritmetika. Kuhayalkan kue-kue itu harus kususn sedemikian rupa dengan beda yang beraturan. dasar anak matematika.. tahunya hanya bisa bikin deret. Sampai-sampai kue juga dianggap deret aritmetika hahaha..

#ramadhnmubarak #akhirramadhan #deritajelangramadhan

Tidak ada komentar:

Silahkan tinggalkan komentar