Obat dan Racun - Dunia Yaya

Minggu, 05 Maret 2017

Obat dan Racun

Obat, seharusnya menjadi tameng bagi seseorang untuk bisa tetap hidup. Pil itu serasa berlian yang membuat mata berbinar, mana kala rasa sakit tak tertangguhkan lagi. Saat sakit ini semakin lama mengrogoti, dan saat inilah paling lama bertamu padaku, obatpun bersilewaran masuk ke dalam kerongkonganku. Mulai dari obat dokter sampai obat herbal. Mulai dari yang manis, pahit, sampai yang amis. Semuanya masuk saja ke kerongonganku. Bisa dibayangkan, sosok yang tidak begitu suka dengan obat harus meminum semua itu. Awalnya obat yang masuk masih obat generik dan herbal umumnya seperti asam mefenamat, ampicilyn, paracetamol, sari kurma, habbaussauda, minyak zaitun. Sekarang sudah merambah ke obat lainnya. Obat herbal alami banget sudah ada daun bosi-bosi, pelepah batang kayu jawa, daun bunga nangko, kunir putih. Plus obat dokter lainnya ada hemafort, tablet penambah darah folid acid. Rasanya pengen muntah setiap kali obat itu harus kuminum tetapi mau bagaimana lagi?.

Obat yang pada awalnya ibarat berlian bersinar, berganti ibarat racun yang justru mengrogoti tubuh. Jujur, ada rasa khawatir mendapatkan diri harus mengkonsumsi semua itu. Ujung dari obat yang terlalu banyak adalah ginjal. Apalagi saya orang yang susah minum air banyak. Kumpulan obat itu kadang lama kutatap, mestikah semua masuk kedalam tubuhku? Tak masalahkah semuanya bercampur? Jangan-jangan kumpulan obat itu malah menumpuk jadi racun. Kemarin, setelah meminum obat penambah darah plus vitamin, perasaan tak enak tiba-tiba menjalari tubuhku. Rasa mual begitu kuat. Dan tak butuh waktu lama, saya pun akhirnya muntah. Makanan yang belum lama juga masuk ke dalam tubuhku termuntahkan keluar. Apakah tubuhku telah menolak obat-obatan itu?. Ahhh… saya makin khawatir. Lebih khawatir acapkali disuruh meminum obat. Setiap obat itu masuk, rasanya ibarat memberi racun ke tubuhku. Lalu harus bagaimana agar tubuh ini bisa lebih sehat?

Tidak ada komentar:

Silahkan tinggalkan komentar