Langsung ke konten utama

Konde, Kidung, dan Kebaya

Awalnya nggak ngeh, orang kenapa pada bahas konde?. Tapi karena penasaran jd nyari sana-sini. Hm... ternyata begitu ya?. Penggiringan opini lagi. Rasanya logika kita semua pada jalan deh. Kok nasionalisme masih harus diukur dengan konde, kidung, dan kebaya?.

Sehebat apapun sebuah budaya, kalau nggak sesuai sama syariat, apakah mesti diikuti?. "Pengen membudayakan syari'at atau mensyari'atkan budaya?".

Secinta bagaimanapun kau maksud dirimu, nggak mungkin kan berkonde biar di rumah?.
Senasionalis apapun dirimu, nggak pake kebaya tiap hari kan kemana2?.
Seindonesia apapundirimu menurutmu, telinganya nggak dengar kidung melulu kan?

Jika nasionalisme dan toleransi disematkan hanya bagi mereka yang berkonde, berkebaya, dan berkidung. Trus mau di depak dari indonesia ya?. 
Tapi kalau seorang hamba yang ngakunya muslim dan sejak dalamrahim telah mengikrarkan diri menjadikan Allah sebagai Rabb-nya, rela dengan segala syari'at agamanya, tetapi ketika di dunia malah seolah hilang ingatan nggak ingat janjinya ke Allah: qaaluu balaa syahidna. Apa mau didepak juga dari dunia?

Aduhai bu...
Jangan ganggu syari'at ini.
Ada banyak hati yang kau sakiti.
Jika hati mereka terdzalimi
Tunggu saja balasan akan mendekati
Jadi..
Ibu baiknya berhenti berpuisi
Mari koreksi diri
Ada apa dengan hati yang tak mau merasai
Ada apa dengan pikir yang tak mau memahami
Ada apa dengan iman yang masih juga tak meyakini
Mari kesini
Kita kumpul mengkaji
Bukankah itu lebih berarti
Daripada sibuk mencari pembenaran diri.
*Yaya Afifatunnisa*

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Keluarga Elhabashy

Tahu kan ya dia siapa Maryam, Hamzah, dan Mundzir Elhabashy?. Ada yang nggak kenal?. Wah harus kenalan sama dia. Sebenarnya bukan lebay atau gimana gitu. Cuma bener terkagum-kagum mengikuti perkembangan keluarga ini. Seperti pada tulisan sebelumnya bagaimana sosok Hamzah membuat saya terharu dan terkagum-kagum sampai saya kepo mau tahu nih anak dari mana, dan bagaimana bisa menjadi hafidz di negeri minoritas muslim dan juga terkenal dengan negeri yang anti islam. Bisa dibayangkan bagaimana menjadi muslim di negeri minoritas apalagi dengan suguhan kebebasan. Bagaimana tumbuh sosok remaja yang didik menjadi generasi Qur'ani. Keterkaguman saya semakin bertambah setelah tahu kakaknya ternyata juga seorang hafidzah (Maryam Elhabashy) dan adiknya (Munthir Elhabshy) pun bercita-cita sama dengan kakak-kakaknya. Aih... betapa bangganya orang tua mereka. Keterkaguman saya semakin lengkap dengan melihat bagaimana ayah mereka begitu perhatian dan telaten selalu ada untuk anak-anaknya. Aya

Hamzah Elhabashy

Who is He?. Mungkin masih banyak yang belum mengenalnya, bahkan mengetahui namanya. karena pada dasarnya memang dia bukanlah seorang aktor atau semacamnya yang membuat dia terkenal. Namun, sejak kemunculannya di depan khalayak pada kompetisi Dubai International Holy Quran Award (DIHQA) 2015, akhirnya sosoknya menyita banyak perhatian. betapa tidak, sosoknya memang akan mudah menarik perhatian, gaya yang mungkin tidak seperti ala seorang hafidz, rambut panjang, lebih pakai setelan jas padahal yang lain kebanyakan pakai jubah plus kopiah atau sorban, wajah imut, manis, dan cakep (hayo, siapa yang nolak kalau dia cakep? hehehehe....). Apalagi..? Karena dia berasal dari negara USA, Amerika Serikat. Bukankah Amerika serikat sudah lazim dianggap sebagai negara yang selalu anti islam, sepakat menyebut islam sebagai teroris, dan negara yang selalu saja rasis dengan islam. Disana, islam adalah agama minoritas, agama yang hanya dianut oleh segelintir orang saja. Dengan kebudayaan yang ala bar

Adab Bertamu

Momen lebaran adalah adalah waktu yang sudah menjadi tradisi untuk dijadikan ajang silaturrahim baik ke keluarga, kerbat, teman, ataupun kenalan. Bukan hanya sekedar datang bertamu, tetapi motivasi dasarnya adalah melekatkan kembali silaturrahim yang mungkin sebelumnya lama tidak terhubung, renggang, ataupun retak. Atau singkatnya disebut sebagai ajang maaf memaafkan. Meski sebenarnya meminta maaf dan memaafkan tidak harus menunggu lebaran. Acapkali berbuat salah selayaknya harus meminta maaf.  Dengan adanya moment silaturrahim tersebut, lalulintas pengunjung dari dan ke rumah seseorang akan meningkat. Maka tiap keluarga mesti bersiap menerima tamu yang tidak seperti biasanya. Hanya saja, masih ada tamu yang datang tidak menunjukkan etika yang baik saat bertamu. Bukannya membuat simpatik nyatanya membuat toxic. Kayaknya kita masih perlu belajar adab bertamu. Berikut beberapa hal yang perlu dihindari saat bertamu ataupun bersilaturrahim: 1. Tim penanya. Selalu bertanya status. "Kap