Konde, Kidung, dan Kebaya - Dunia Yaya

Sabtu, 07 April 2018

Konde, Kidung, dan Kebaya

Awalnya nggak ngeh, orang kenapa pada bahas konde?. Tapi karena penasaran jd nyari sana-sini. Hm... ternyata begitu ya?. Penggiringan opini lagi. Rasanya logika kita semua pada jalan deh. Kok nasionalisme masih harus diukur dengan konde, kidung, dan kebaya?.

Sehebat apapun sebuah budaya, kalau nggak sesuai sama syariat, apakah mesti diikuti?. "Pengen membudayakan syari'at atau mensyari'atkan budaya?".

Secinta bagaimanapun kau maksud dirimu, nggak mungkin kan berkonde biar di rumah?.
Senasionalis apapun dirimu, nggak pake kebaya tiap hari kan kemana2?.
Seindonesia apapundirimu menurutmu, telinganya nggak dengar kidung melulu kan?

Jika nasionalisme dan toleransi disematkan hanya bagi mereka yang berkonde, berkebaya, dan berkidung. Trus mau di depak dari indonesia ya?. 
Tapi kalau seorang hamba yang ngakunya muslim dan sejak dalamrahim telah mengikrarkan diri menjadikan Allah sebagai Rabb-nya, rela dengan segala syari'at agamanya, tetapi ketika di dunia malah seolah hilang ingatan nggak ingat janjinya ke Allah: qaaluu balaa syahidna. Apa mau didepak juga dari dunia?

Aduhai bu...
Jangan ganggu syari'at ini.
Ada banyak hati yang kau sakiti.
Jika hati mereka terdzalimi
Tunggu saja balasan akan mendekati
Jadi..
Ibu baiknya berhenti berpuisi
Mari koreksi diri
Ada apa dengan hati yang tak mau merasai
Ada apa dengan pikir yang tak mau memahami
Ada apa dengan iman yang masih juga tak meyakini
Mari kesini
Kita kumpul mengkaji
Bukankah itu lebih berarti
Daripada sibuk mencari pembenaran diri.
*Yaya Afifatunnisa*

Tidak ada komentar:

Silahkan tinggalkan komentar